Tampilkan postingan dengan label Simalungun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Simalungun. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2010

KERUNTUHAN MONARCHI SIMALUNGUN

 BANGUN DAN RUNTUHNYA KERAJAAN SIMALUNGUN SUMATERA TIMUR

Oleh: Erond Litno Damanik, M.Si

1.Pengantar.

Riwayat asal mula kerajaan Simalungun hingga kini belum diketahui pasti, terutama tentang kerajaan pertama yakni Nagur (Nagore, Nakureh). Demikian pula kerajaan Batanghiou serta Tanjung Kasau. Kehidupan kerajaan ini hanya dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan petualang dunia terutama Marcopolo dan petualang dari Tiongkok ataupun dari hikayat-hikayat (poestaha partikkian) yang meriwayatkan kerajaan tersebut. Di zaman purba wilayah Simalungun mempunyai 2 buah kerajaan besar yaitu pertama kerajaan Nagur yang ada di dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai-sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Pada masa itu, kerajaan Simalungun dikenal dengan nama harajaon na dua (kerajaan yang Dua)Selanjutnya, diketahui bahwa pasca keruntuhan kerajaan Nagur, maka terbentuklah harajaon na opat (kerajaan Berempat) yaitu: Siantar, Tanoh Jawa, Panai dan Dolog Silau. Ke-empat kerajaan ini menjadi populer pada saat masuknya pengusaha kolonial Belanda, dimana tiga kerajaan yakni Tanoh Jawa, Siantar dan Panei bekerjasama dengan pengusaha kolonial dalam memperoleh perijinan tanah. Setelah masuknya Belanda terutama sejak penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) maka tiga (3) daerah takluk (partuanan) Dolog Silau di naikkan statusnya menjadi kerajaan yang sah dan berdiri sendiri, yakni Silimakuta, Purba dan Raya. Pada saat itu, kerajaan di Simalungun dikenal dengan nama harajaon na pitu (kerajaan yang Tujuh). Simalungun Sumatera Timur.Akhir dari kerajaan Simalungun ini adalah terjadinya amarah massa pada tahun 1946 yang dikenal dengan revolusi Sosial. Sejak saat itu, peradapan rumah bolon (kerajaan) Simalungun punah selama-lamanya. Dengan uraian singkat diatas, penulis berkeinginan untuk menulis kembali sejarah berdiri dan hanucrnya kerajaan.Atas dasar inilah, penulis berkeinginan untuk mendeskripsikan kembali sejarah bangun dan hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur yang banyak diriwayatkan dalam sejarah Simalungun.

2. Tiga fase Kerajaan Simalungun.

Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Seperti yang dikemukakan diatas bahwa asal muasal kerajaan Simalungun tidak diketahui secara pasti terutama dua kerajaan terdahulu yakni Nagur dan Batanghiou. Sinar (1981) mengemukakan bahwa kerajaan Nagur telah ada dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. Kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Kendati konsepsi raja dan kerajaan di Simalungun masih kabur, akan tetapi, Kroesen (1904:50 mengemukakan bahwa konsep raja dan kerajaan itu berasal dari orang Simalungun itu sendiri sebagai perwujudan otonomi kekuasaan yang lebih tinggi. Bangun dalam Saragih (2000:310) mengemukakan bahwa kata ‘raja’ berasal dari India yaitu ‘raj’ yang menggambarkan pengkultusan individu penguasa. Mungkin saja konsep itu terbawa ke Simalungun akibat penetrasi kerajaan Hindu-Jawa seperti Mataram lama pada masa ekspansi ke Sumatera Timur (Tideman,1922:58). Lebih lanjut dikemukakan bahwa pengaruh Hindu di Simalungun dapat diamati langsung dari bentuk peninggalan yang mencerminkan pengaruh Hindu-Jawa. Nama kerajaan Tanoh Djawa setidaknya telah mendukung argumentasi itu Menurut sumber Cina yakni Ying-yai Sheng-ian, pada tahun 1416, kerajaan Nagur (tertulis nakkur) berpusat di Piddie dekat pantai barat Aceh Dikisahkan bahwa raja nagur berperang dengan raja samudra (Pasai) yang menyebabkan gugurnya raja Samodra akibat panah beracun pasukan Nagur. Pemaisuri kerajaan Samodra menuntut balas dan setelah diadakannya sayembara, maka raja Nagur berhasil ditewaskan. Kendati demikian, sejarawan Simalungun sepakat bahwa lokasi ataupun pematang kerajaan Nagur adalah di Pematang Kerasaan sekarang yang berada dekat kota Perdagangan terbukti dengan adanya konstruksi tua bekas kerajaan Nagur dari ekskavasi yang dilakukan oleh para ahli (Tideman, 1922:51). Mengenai polemik tentang lokasi defenitif kerajaan Nagur pernah berada dekat Pidie (Aceh) dapat dijelaskan sebagai akibat luasnya kerajaan Nagur. Oleh karenanya, raja Nagur menempatkan artileri panah beracunnya pada setiap perbatasan yang rentan dengan invasi asing. Kerajaan Batanghio, tidak ditemukan tulisan-tulisan resmi tentang riwatnya maupun pustaha yang mengisahkan asal-usulnya. Hanya saja Tideman (1922) menulis dalam nota laporan penjelasan mengenai Simalungun. Oleh para cerdik pandai Simalungun, Batanghio pada awalnya dipercaya sebagai partuanon Nagur, akan tetapi karena kemampuannya dan karena luasnya kerajaan Nagur, maka status partuanon itu diangkat menjadi kerajaan. Pada tahun 1293-1295, kerajaan Nagur dan Batanghio diinvasi kerajaan Singasari dengan rajanya yang terkenal, Kertanegara. Ekspedisi itu dikenal dengan ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Panglima Indrawarman yang berasal dari Damasraya Djambi (Wibawa, 2001:14-15) yang kemudian mendirikan Kerajaan (Dolog) Silou pada akhir abad XIV. Untuk mempertahankan, daerah vasalnya, maka raja nagur menyerahkan kekuasaannya kepada para panglima dan mempererat hubungan dengan pematang (central kekuasaan) semakin erat dan kokoh. Dengan demikian di Simalungun sampai pada tahun 1883 terdapat kerajaan yang sifatnya konfederasi (Dasuha dan Sinaga, 2003:31) yakni kerajaan Siantar (Damanik), Panei (Purba Dasuha), Dolog Silau (Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (Sinaga). Wilayah Dolog Silau yang begitu luas dan intensya pertikaian antar huta, maka dibentuklah tiga partuanon, yakni Partuanon Raya (Saragih Garinging), Partuanon Purba (Purba Pakpak) dan Partuanon Silimahuta (Purba Girsang). Strategi ini ditempuh untuk mempererat kekuasaan Dolog Silau dan tiga kerajaan besar lainnya. Setelah penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) pada tahun 1907 yang intinya tunduknya seluruhnya kerajaan kepada kolonial, maka untuk mempermudah urusan administrasi serta mempermuda politik devide et impera, maka status partuanon dari tiga partuanon Dolog Silou itu dinaikkan statusnya menjadi kerajaan. Yakni kerajaan Silimahuta (Purba Girsang) yang Pematang nya di Pematang Nagaribu, kerajaan Purba (Purba Pak-pak) dengan pematang di Pematang Raya. Dengan demikian setelah penandatanganan Korte Verklaring, Simalungun mengenal tujuh kerajaan yang bersifat konfederasi, yakni dikenal dengan sebutan Kerajaan nan tujuh (harajaon Na pitu-siebenvorsten) (Tambak,1982:20-128; Tideman,1922:3-11). Pasca penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) itu, maka oleh pemerintah kolonila Belanda, penguasa pribumi (native states) ditugaskan untuk mengurus daerahnya sendirinya sebagai penguasa swapraja. Sebagai penguasa daerah yang otonom mereka memiliki status sebagai kepala pemerintahan daerah. Penataan itu dilakukan sebagai upaya mempercepat aneksasi dan passifikasi daerah dalam upaya menjaga kondusifitas onderneming kolonial.Dalam poestaha hikayat Parpadanan na Bolak dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ayam (dayok nabinatur).Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing, Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masing-masing kerajaan di Simalungun dengan marga pemerintahnya adalah sebagai berikut: Fase Nama Kerajaan Marga Pemerintah
I Kerajaan yang dua Nagur Damanik
Batanghoiu Saragih
II Kerajaan yang Empat Siantar Damanik
Tanoh Jawa Sinaga
Dolog Silau Tambak
Panai Dasuha
III Kerajaan yang Tujuh Siantar Damanik
Tanoh Jawa Sinaga
Dolog Silau Tambak
Panai Dasuha
Raya Garingging
Purba Pakpak
Silimahuta Girsang


3. Runtuhnya Kerajaan Simalungun Sumatera Timur.

Kekhasan Sumatera Timur menjelang Indonesia merdeka tahun 1945 adalah adanya perbedaan-perbedaan kelas antara bangsawan dan rakyat jelata. Dalam masyarakat Simalungun, perbedaan kelas tersebut adalah seperti golongan parbapaan (bangsawan), partongah (pedagang), paruma (petani) dan jabolon (budak). Keadaan yang sama ada pada rakyat Melayu Sumatera Timur terutama antara Sulthan dan rakyat.Sebagai negera yang bari terbentuk, nasionalisme rakyat Indonesia masih mengental dan dapat dipahami apabila masih menaruh dendam terhadap feodalisme yang sebelumnya merupakan kaki tangan kolonial. Oleh karena itu, situasi rakyat yang masih baru merdeka, kemudian disulut dengan provokasi orang lain (organisasi) tak pelak lagi apabila kecemburuan sosial dapat berujuk revolusi massa yang menelan ongkos sosial yang tinggi. Termasuk punahnya sebuah peradapan di Sumatera Timur (Simalungun dan Melayu), dimana raja dan kerabatnya beserta istananya musnah selama-lamanya. Keadaan seperti ini berlanjut hingga memasuki tahun 1946 sehingga mendorong kebencian masyarakat terhadap golongan elit. Sejalan dengan itu, berkembangnya pemahaman politik pada waktu itu, turut pula menyulut keprihatinan terhadap perbedaan kelas yang didorong oleh keinginan untuk menghapuskan sistem feodalisme di Sumatera Timur.Demikianlah hingga akhirnya terjadi peristiwa berdarah yang meluluhlantakkan feodalisme di Sumatera Timur terutama pada rakyat Simalungun dan Melayu. Pada peristiwa tersebut empat dari tujuh kerajaan Simalungun yaitu Tanoh Jawa, Panai, Raya dan Silimakuta pada periode ketiga ini musnah dibakar. Sementara Silau, Purba dan Siantar luput dari serangan kebringasan massa. Raja dan kerabatnya banyak dibunuh. Peristiwa ini menelan banyak korban nyawa, harta dan benda. Kejadian yang sama juga menimpa kesultanan Melayu dimana empat kesultanan besarnya Langkat, Deli, Serdang serta Asahan dibakar dan lebih dari 90 sultan dan kerabatnya tewas dibunuh (Reid, 1980)Riwayat swapraja Simalungun telah berlalu setelah terjadinya revolusi sosial pada tahun 1946. Revolusi itu tidak saja menamatkan kerajaan tapi juga seluruh kerabat perangkat kerajaan dan keluraga raja yang mendapatkan hak istimewa dari pemerintah kolonial, sehingga telah meningkatkan kecemburuan sosial dari rakyat terhadap raja. Revolusi terjadi setelah rakyat diorganisir dan diagitasi oleh organisasi dan partai revolusioner di Simalungun. Sejak saat itu sistem kerajaan tradisional Simalungun menemui riwayatnya. Dalam arti lain, lenyapnya atau runtuhnya zaman keemasan monarhi itu telah pula menandai berakhirnya peradapan besar rumah bolon.

4. Penutup.

Bentuk peradapan Simalungun yang tidak dimiliki oleh sub etnik Batak lainnya terletak pada sistem pemerintahannya. Orang Simalungun mengenal sistem pemerintahan yang sangat jelas yaitu monarchis (kerajaan), suatu bnetuk pemerintahan yang dikepalai oleh raja beserta aparaturnya. Bentuk pemerintahan tersebut adalah bentuk persinggungan budaya Hindia yang masuk ke tanah Batak memasuki abad ke-4 yang membentuk kerajaan tertua di Sumatera yakni Nagur. Terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur adalah sebagai dampak dari gejolak amarah massa yang terjadi pada 6 Maret 1946 yang lebih dikenal dengan revolusi sosial terutama di wilayah Simalungun dan Melayu Sumatera Timur. Sejak saat itu, sistem pemerintahan swapraja Simalungun punah selama-lamanya.

Daftar Pustaka.

Anderson. John., 1823 Mission to the Eastcoast of Sumatra: Edinbrugh

Dasuha. Juandarahaya dan Marthin Lukito Sinaga., 2003. Tole!den Tomorlanden das Evanggelium. Sejarah Seratus Tahun Pekabaran Injil di Simalungun 2 September 1903-2003: Pematang Siantar: Kolportase GKPS

Kroesen, JA., 1893 Eene reis door de landschappen Tandjoeng Kassau, Siantar en Tanah Djawa. TBG XXXIX, p. 229-304.

Reid. Anthony., 1981., The Blood of the People, Revolution and the of Traditional rule in Nothern Sumatera. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Saragih .Hisarma., 1999. Zending di Tanah Batak: Study Tentang Konversi Dikalangan Masyarakat Simalungun 1903-1942. (Thesis Magister Humaniora). Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

Sinar, T. Luckman, 1981. Tuhan Sang Nahualu, Raja Siantar. Seminar Sejarah Nasional III, tanggal 12-11-1981 di Jakarta.

Tambak.,T.B.A., 1982. Sejarah Simalungun. Pematang Siantar: Yayasan Museum Simalungun.

Tiderman.J., 1922. Simeloengen: Het Land der Timoer Bataks in Zijn Ontwikling tot Een Deel Van het Kulturgebied van de Ooskust van Sumatera. Leiden: Stamdruskkerij Louis H. Beeherer 

sumber : mursaing 

Informasi Yang Keliru Tentang Saragih Permata

Pada edisi 2-3bln lalu di Majalah Budaya Simalungun “SAUHUR” ada informasi yg menurut sy adalah aneh,yaitu mengenai sejarah Morga Saragih Permata.
Pada postingan lawei Muhar Omtatok Saragih di milis barita-simalungun@yahoogroups.com diceritakan bhw morga Saragih Permata adalah marga keturunan dari Saragih Garingging sama hal-nya juga dgn Morga Saragih Jawak & Saragih Dasalak yg merupakan keturunan dari Saragih Garingging.
Pada topik Sejarah Morga Saragih Permata yang dimuat dalam Majalah Sauhur itu dikatakan bahwa Saragih Permata adalah keturunan dari perantau asal Samosir yang berpindah ke Raya dan kemudian menggunakan marga Saragih dengan cabang Permata karena berasal dari marga Simarmata sebelumnya di Samosir.
Ini jelas suatu kerancuan sejarah,karena jika mmg dia adalah Simarmata sebelumnya maka sama halnya dengan yang lain maka akan menjadi cabang dari Saragih Simarmata dan tidak membentuk cabang baru karena aslinya Saragih Permata adalah cabang dari Saragih Garingging penguasa di Raya,Simalungun.
Postingan yang kontroversi ini jelas membuat kegaduhan yang kemudian terlihat pada edisi berikutnya Redaksi Majalah Sauhur mendapat kritik dari pembacanya bahwa Sejarah Saragih Permata yang dimuat pada Majalah Sauhur tersebut adalah ngawur dan tidak berdasar.
Untunglah pihak redaksi SAUHUR melalui redaktur Lawei Muhar Omtatok Saragih segera melakukan klarifikasi pada edisi berikutnya sehingga artikel yang ngawur ini bisa segera dibantahkan,lolosnya artikel ini tidak lepas dari berangkatnya redaktur Majalah Sauhur tsb ke Jakarta sedangkan Majalah Sauhur masih kekurangan SDM dalam memeriksa artikel yang masuk selain itu juga krn kekurangan artikel yang mau disumbangkan secara sukarela pada Majalah Budaya Simalungun ini demi perkembangan bersama halak Simalungun di mana pun terutama di perantauan.
Informasi tentang Simalungun sangat banyak saat ini di berbagai website namun belum tentu benar,jadi wajib kita untuk sedikit  selektif dalam membaca beberapa artikel Sejarah dan Budaya Simalungun.Perhatikan juga apakah dari artikel tsb mempunyai “hidden agenda” atau tidak.
Beberapa artikel yang diposting oleh seseorang wartawan (entah masih sebagai karyawan Gatra atau tidak saat ini) dengan nama Julkifli Marbun atau kadangkala menggunakan nama “@Simalungun” pada beberapa blog yang ia buat (sekitar 15 blog lebih) lebih banyak berisikan informasi kabur dan karangan beliau,jadi kita wajib untuk lebih hati-hati dalam membaca postingan-postingan beliau terutama yang berkaitan dengan Sejarah dan Budaya Simalungun


Muhar Omtatok berkata

Terimakasih Lawei atas tanggapannya.
Sebagai Redaktur Pelaksana, saya sangat kecolongan atas tulisan Sdr. Masrul Purba tersebut,karena pada saat itu saya sedang berada di luar pulau dalam rangka pengobatan.
Secara pribadi, saya sangat menyayangkan kinerja Sdr Masrul Purba yang sebenarnya adalah potensi untuk Simalungun, bukan menulis sebuah kisah tanpa referensi yang cukup.
Dalam tulisan tersebut, ada beberapa nama yang ia pakai. Beberapa waktu lalu, turunan dari nama-nama yang dipakai dalam tulisan tersebut, sudah mengadakan pertemuan dan akan menempuh jalur hukum terhadap penulis.
Sekarang ini kita sedang mengumpulkan data untuk itu.
Diatte Tuppa


TARALAMSYAH SARAGIH SANG MAESTRO ITU

 Photo Kenangan Tuan Taralamsyah Saragih Garingging & Istri Siti Mayun Br Regar-1975


 Tuan Taralamsyah Saragih


Tuan Taralamsyah Saragih Garingging adalah salah seorang bangsawan Simalungun yang memiliki kepedulian terhadap seni, budaya dan sejarah Simalungun. Penguasaannya terhadap Sejarah, Seni dan Kebudayaan Simalungun khususnya, perlu dihargai dan dikenang meskipun beliau telah lama berpulang.
Tuan Taralamsyah Saragih
Arlin Dietrich Jansen saat menyusun Thesis Doctor of Philosophy (Ph.D), dengan judul Gonrang Music  : Its structure and functions in Simalungun Batak Society in Sumatra / University of Washington, 1980, mengakui meskipun ia belum bertemu sua dengan Taralamsyah Saragih, namun koresponden yang ia lakukan dengan Taralamsyah Saragih, sangat banyak menjadi rujukan dalam thesis yang sudah menjadi buku ini.

Banyak penulis buku mengenai Simalungun mengutip pendapat Taralamsyah Saragih. Ia dengan tegas menyebutkan Rumah Bolon Nagur berada di Nagurusang (kini masuk Kab. Serdang Bedagai). Pendapat ini secara lugas dikutip Sejarahwan Dada Mauraxa, misalnya.

Taralamsyah Saragih yang menyelesaikan pendidikan formal di Holandse Inlandse School (HIS) Simalungun ini, misalnya dalam surat pribadi,1963, menjelaskan jika orang Simalungun asli itu merupakan keturunan dari empat raja-raja besar yang berasal dari Siam dan India dengan rakyatnya masuk ke Sumatera Timur terus ke Aceh, Langkat dan daerah Bangun Purba dan Bandar Kalifah sampai Batubara. Akibat desakan orang “Djau”, berangsur-angsur mereka mencapai pinggiran Danau Toba sampai ke Samosir. Adapun keempat marga-marga Simalungun yang populer Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba berasal dari “harungguan bolon” (permusyawaratan besar) raja-raja yang empat itu agar jangan saling menyerang, bermusuhan dan “marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munsuh”.

Mengenai Keturunannya morga Sinaga Dadihoyong di Kerajaan Tanoh Jawa, Batangiou di Asahan. Taralamsyah Saragih menjelaskan, “Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad ke 14 , pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batangiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga. Nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Jawa dengan morga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang morga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (Sibijaon)”.

Sosok multi talenta yang mampu bermain berbagai alat musik, mencipta lagu, menari dan mengkoreografi tari serta kepeduliannya terhadap Simalungun, sudah jarang kita temukan saat ini dikalangan masyarakat Simalungun. namun Tuan Taralamsyah Saragih Garingging memiliki semua itu.

Terlahir di lingkungan Rumah bolon (Istana) di Pamatang Raya – Simalungun, Ahad 18 Agustus 1918.  Menikah saat berusia 26 tahun dengan Siti Mayun br Regar pada Sabtu 25 November 1944, dan dianugrahi 3 orang putra dan 9 putri.

Mansen Purba, SH (Alm) saat menjadi Sekretaris Rektor Universitas Simalungun (USI), 1967, pernah berkreasi bersama dengan Taralamsyah Saragih. Dalam catatan Mansen Purba menulis, “Aku juga mengusahakan agar USI berperan sebagai pusat kegiatan kebudayaan. Salah satunya adalah di kala kuprakarsai pagelaran Semalam di Simalungun, karya Taralamsyah Saragih, dengan penari utama Nangkir Saragih, dari Medan. Setelah latihan di Medan, rombongan penari menginap di USI, sebelum pertunjukan digelar di Aula Nommensen. Sekaligus aku berharap pagelaran tersebut dapat menjadi sumber penghasilan bagi seniman sekaliber Taralamsyah Saragih yang waktu itu kurang mendapat perhatian”.

“Berkat dukungan moril dari Komandan Korem Laiku Silangit (Tarigan/Purba Silangit asal Gunung Mariah), pagelaran tersebut sukses, baik dari segi pagelaran keseniannya maupun dari segi finansial. Sayangnya, Nangkir Saragih sebagai penari utama ‘menodong’ Taralamsyah sesaat sebelum pertunjukan. Ia minta bayaran yang sangat besar, jika tidak dipenuhi, akan mengundurkan diri. Taralamsyah terpaksa mengabulkannya, dan karena itu yang tersisa untuk Taralamsyah hampir tidak ada”, tambah Mansen Purba.

“Sejak itu Tulang Taralamsyah sempat tinggal bersama kami di USI, menempati salah satu kamar di Lantai-2. Disela-sela kegiatannya menulis, pada malam hari beliau berdendang dengan clarinetnya. Masa itulah Tulang Taralamsyah merampungkan bukunya berisi sejarah Kerajaan Raya dan silsilah Raja Raya serta penyebaran keturunan Raja Raya. Nama Taralamsyah Saragih dan nama Inangku tercantum sebagai generasi ke-15, yang berarti aku generasi ke-16. Naskahnya diserahkan kepadaku agar kuterbitkan. Saat aku sudah pindah ke Medan, naskahnya kuketik ulang, kemudian difotocopy diperkecil 50%, dan akhirnya kuterbitkan setelah ku-offset di Percetakan Tapian Raya, dengan biaya sendiri. Judulnya “Saragih Garingging”. Tulang Taralamsyah sangat berharap mendapat honor dari penerbitan tersebut, tetapi hanya sedikit yang sempat kukirimkan, karena penjualan buku tersebut tersendat”.
"Sang Maestro yang tak dikenang" oleh Muhar Omtatok
Website Taman Budaya Jambi menuliskan tentang Tuan Taralamsyah Saragih, “Kehadirannya di Jambi sejak pertengahan tahun 1971 atas permintaan Gubernur R.M. Noer Atmadibrata pada waktu itu, telah menambah khasanah bagi perkembangan dunia kesenian Jambi. Menurut H. Tamjid Widjaya, salah seorang sahabat dan murid terdekatnya mengatakan bahwa beliau umpama besi berani, mengumpulkan dan menyatukan serbuk-serbuk besi yang berserakan di sekitarnya. Beliau juga merupakan figure seorang guru dan sekaligus bapak yang mampu meletakkan porsinya dalam mendidik murid-muridnya, mereka semua dianggap seperti anak sendiri. Jadi tidak hanya mengajarkan ilmu keseniannya tapi juga memberikan bekal hidup bagi diri saya secara pribadi, kenang H. Tamjid Widjaya yang musisi dan pencipta lagu-lagu Jambi ini.

Pada tahun 1978, Gubernur Jambi Jamaluddin Tambunan, pernah menginstruksikan untuk melaksanakan penelitian dan pencatatan seni musik dan tari daerah Jambi, yang langsung dipercayakan kepada Taralamsyah Saragih sebagai ketua teamnya, dengan anggota Surya Dharma, Tamjid Widjaya, OK. Hundrick, Marzuki Llazim dan M. Syafei Ade, yang kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku yang masih berupa manuskrip dengan judul Ensiklopesi Musik dan Tari Daerah Jambi”.

Semasa hidupnya banyak pekerjaan dan kegiatan yang mengarah pada seni dan budaya ia lakoni. Sebut saja sebagai Pembina serta piñata tari dan musik yang bertolak dari tradisi Simalungun dan melayu, Pimpinan Orkes Keroncong Pematang Siantar (1936-1941), Perkumpulan musik Siantar Beki Dan (1942-1946), Badan Kesenian Simalungun di Medan (1952-1953), Dosen sejarah di Universitas Sumatera Utara (1968-1970), mengelola kesenian di Jambi sejak 1971 serta serentetan kreatifitas yang perlu diperhitungkan.

Penguasaan beliau terhadap seni musik, khususnya gual Simalungun, sulit kita temukan tandingnya pada saat ini. Saat sebelum Revolusi Sosial 1946, Taralamsyah Saragih pernah menjelaskan bahwa sangat banyak jenis musik khas Simalungun yang dahulu mereka pelajari, namun saat Revolusi Sosial tersebut, sekian banyak peralatan musik Simalungun yang kini tidak kita temukan lagi, turut terbakar di dalam istana kerajaan Raya.

Dalam ranah tari Simalungun, banyak jenis tari lahir dari koreografinya. Sebut saja tari Sitalasari (1946), Pamuhun, Simodak odak, Haro-haro (1952), Sombah ( merupakan penyelarasan tortour Sombah yang telah lahir dari akar leluhur, 1953), Runten Tolo (1954), Nasiaran (1955), Makail, Manduda (1957), Haroan Bolon (1959), Uou (1960), Tembakan (1964), Panak Boru Napitu (1966), Erpangir (1968) serta banyak lagi tari dan sendratari yang ia ciptakan dari tangan dinginnya.

Dalam ranah seni suara Simalungun, Taralamsyah Saragih telah banyak menciptakan lagu Simalungun, sebut saja: Lagu Eta Mangalop Boru, Parmaluan, Hiranan, Inggou Parlajang, Tarluda, Parsonduk Dua, Padan Na So Suhun, Tading Maetek, Pamuhunan, Paima Na So Saud, Sihala Sitaromtom, Sanggulung Balunbalun, Ririd Panonggor, Marsalop Ari, Mungutni Namatua, Pindah-Pindah, Inggou Mariah, Uhur Marsirahutan, Poldung Sirotap Padan, Bujur Jehan, Simodak Odak (ciptaan bersama dengan Tuan Jan Kaduk Saragih), serta yang lainnya.

Ada pula beberapa lagu tradisi Simalungun yang ia gubah kembali, seperti Parsirangan , Doding Manduda (ilah tradisi dari Ilah I Losung), Ilah Nasiholan, Marsigumbangi dan Na Majetter (ilah tradisi dari Ilah Bolon).
Terus menghidupkan kesenian dan berkarya, begitu mungkin yang ditekadkan Taralamsyah Saragih dalam mengisi kehidupan. Walaupun hujan duit belum dan tak akan pernah ia rasakan, tapi Sang Bangsawan ini telah melahirkan banyak karya yang belum pernah dimasukkan dalam Hak Kekayaan Intelektual itu.

Tepat pada hari Senin tanggal 1 Maret 1993 di Jambi, Tuan Taralamsyah Saragih Garingging menghembuskan nafas terakhir, disaat sedang menyusun dan  ingin merampungkan Kamus Simalungun yang ia susun dari tahun 1960-an dan hingga kini belum diterbitkan.

sumber :  M Muhar Omtatok

Senin, 01 November 2010

Suku Simalungun

Suku Simalungun adalah salah satu suku asli dari Sumatera Utara, Indonesia.
Simalungun dalam bahasa Simalungun memiliki kata dasar “lungun” yang memiliki makna “sunyi”. Nama itu diberikan oleh orang luar karena penduduknya sangat jarang dan tempatnya sangat berjauhan antara yang satu dengan yang lain. Orang Batak Toba menyebutnya “Si Balungu” dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Batak Timur karena bertempat di sebelah timur mereka.

[Asal-usul]
Terdapat berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun, tetapi sebagian besar menceritakan bahwa nenek moyang Suku Simalungun berasal dari luar Indonesia.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang :

1. Gelombang pertama (Proto Simalungun), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.

2. Gelombang kedua (Deutero Simalungun), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.
Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.
Terbentuknya Simalungun
Pada kerajaan Nagur di atas, terdapat beberapa panglima (Raja Goraha) yaitu masing-masing bermarga:
• Saragih
• Sinaga
• Purba
Kemudian mereka dijadikan menantu oleh Raja Nagur dan selanjutnya mendirikan kerajaan-kerajaan:
• Silou (Purba Tambak)
• Tanoh Djawa (Sinaga)
• Raya (Saragih)

Selama abad ke-13 hingga ke-15, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapatkan serangan dari kerajaan-kerajaan lain seperti Singhasari, Majapahit, Rajendra Chola (India) dan dari Sultan Aceh, Sultan-sultan Melayu hingga Belanda.
Selama periode ini, tersebutlah cerita “Hattu ni Sapar” yang melukiskan kengerian keadaan saat itu di mana kekacauan diikuti oleh merajalelanya penyakit kolera hingga mereka menyeberangi “Laut Tawar” (sebutan untuk Danau Toba) untuk mengungsi ke pulau yang dinamakan Samosir yang merupakan kependekan dari Sahali Misir (bahasa Simalungun, artinya sekali pergi).

Saat pengungsi ini kembali ke tanah asalnya (huta hasusuran), mereka menemukan daerah Nagur yang sepi, sehingga dinamakanlah daerah kekuasaan kerajaan Nagur itu sebagai Sima-sima ni Lungun, bahasa Simalungun untuk daerah yang sepi, dan lama kelamaan menjadi Simalungun. (M.D Purba, 1997)

Kehidupan masyarakat Simalungun
Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. “Marga” memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda. Di Tapanuli sudah berdiri sekolah-sekolah, rumah sakit, dan sekolah-sekolah keterampilan lainnya sehingga sistem kehidupan Tapanuli lebih maju.
Kepercayaan

Patung Sang Budha menunggang Gajah koleksi Museum Simalungun, yang menunjukkan pengaruh ajaran Budha pada Masyarakat Simalungun.
Sebelum masuknya Misionaris Agama Kristen dari RMG pada tahun 1903, penduduk Simalungun bagian timur pada umumnya sudah banyak menganut agama Islam sedangkan Simalungun Barat menganut animisme. Ajaran Hindu dan Budha juga pernah mempengaruhi kehidupan di Simalungun, hal ini terbukti dengan peninggalan berbagai patung dan arca yang ditemukan di beberapa tempat di Simalungun yang menggambarkan makna Trimurti (Hindu) dan Sang Budha yang menunggangi Gajah (Budha).

Bila diselidiki lebih dalam suku Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pemakaian mantera-mantera dari “Datu” (dukun) disertai persembahan kepada roh-roh nenek moyang yang selalu didahului panggilan kepada Tiga Dewa, yaitu Dewa di atas (dilambangkan dengan warna Putih), Dewa di tengah (dilambangkan dengan warna Merah), dan Dewa di bawah (dilambangkan dengan warna Hitam). 3 warna yang mewakili Dewa-Dewa tersebut (Putih, Merah dan Hitam) mendominasi berbagai ornamen suku Simalungun dari pakaian sampai hiasan rumahnya.
Sistem pemerintahan di Simalungun dipimpin oleh seorang Raja, sebelum pemberitaan Injil masuk Tuan Rajalah yang sangat berpengaruh. Orang Simalungun menganggap bahwa anak Raja itulah Tuhan dan Raja itu sendiri adalah Allah yang kelihatan.

Marga-Marga
Harungguan Bolon
Terdapat empat marga asli suku Simalungun yang populer dengan akronim SISADAPUR, yaitu:
• Sinaga
• Saragih
• Damanik
• Purba
Keempat marga ini merupakan hasil dari “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).

Keempat raja itu adalah:
1. Raja Nagur bermarga Damanik
Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).
Raja ini berasal dari kaum bangsawan India Selatan dari Kerajaan Nagore. Pada abad ke-12, keturunan raja Nagur ini mendapat serangan dari Raja Rajendra Chola dari India, yang mengakibatkan terusirnya mereka dari Pamatang Nagur di daerah Pulau Pandan hingga terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan jumlah puteranya:
• Marah Silau (yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar)
• Soro Tilu (yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola)
• Timo Raya (yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)
Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang berasal dari Pulau Samosir dan mengaku Damanik di Simalungun.

2. Raja Banua Sobou bermarga Saragih
Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragih berarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.
Keturunannya adalah:
• Saragih Garingging yang pernah merantau ke Ajinembah dan kembali ke Raya.
• Saragih Sumbayak keturunan Tuan Raya Tongah, Pamajuhi, dan Bona ni Gonrang.
Saragih Garingging kemudian pecah menjadi 2, yaitu:
• Dasalak, menjadi raja di Padang Badagei
• Dajawak, merantau ke Rakutbesi dan Tanah Karo dan menjadi marga Ginting Jawak.
Walaupun jelas terlihat bahwa hanya ada 2 keturunan Raja Banua Sobou, pada zaman Tuan Rondahaim terdapat beberapa marga yang mengaku dirinya sebagai bagian dari Saragih (berafiliasi), yaitu: Turnip, Sidauruk, Simarmata, Sitanggang, Munthe, Sijabat, Sidabalok, Sidabukke, Simanihuruk.
Ada satu lagi marga yang mengaku sebagai bagian dari Saragih yaitu Pardalan Tapian, marga ini berasal dari daerah Samosir.

3. Raja Banua Purba bermarga Purba
Purba menurut bahasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Purwa yang berarti timur, gelagat masa datang, pegatur, pemegang Undang-undang, tenungan pengetahuan, cendekiawan/sarjana.
Keturunannya adalah: Tambak, Sigumonrong, Tua, Sidasuha (Sidadolog, Sidagambir). Kemudian ada lagi Purba Siborom Tanjung, Pakpak, Girsang, Tondang, Sihala, Raya.
Pada abad ke-18 ada beberapa marga Simamora dari Bakkara melalui Samosir untuk kemudian menetap di Haranggaol dan mengaku dirinya Purba. Purba keturunan Simamora ini kemudian menjadi Purba Manorsa dan tinggal di Tangga Batu dan Purbasaribu.

4. Raja Saniang Naga bermarga Sinaga atau Tanduk Banua (terletak di perbatasan Simalungun dengan tanah Karo)
Sinaga berarti Simada Naga, dimana Naga dalam mitologi dewa dikenal sebagai penebab Gempa dan Tanah Longsor.
Keturunannya adalah marga Sinaga di Kerajaan Tanah Jawa, Batangiou di Asahan.
Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad ke-14, pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batangiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga.
Menurut Taralamsyah Saragih, nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Djawa dengan marga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang marga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (Sibijaon).Tideman, 1922

Beberapa Sumber mengatakan bahwa Sinaga keturunan raja Tanoh Djawa berasal dari India, salah satunya adalah menrurut Tuan Gindo Sinaga keturunan dari Tuan Djorlang Hatara.
Beberapa keluarga besar Partongah Raja Tanoh Djawa menghubungkannya dengan daerah Nagaland (Tanah Naga) di India Timur yang berbatasan dengan Myanmar yang memang memiliki banyak persamaan dengan adat kebiasaan, postur wajah dan anatomi tubuh serta bahasa dengan suku Simalungun dan Batak lainnya.

Marga-marga perbauran
Perbauran suku asli Simalungun dengan suku-suku di sekitarnya di Pulau Samosir, Silalahi, Karo, dan Pakpak menimbulkan marga-marga baru. Marga-marga tersebut yaitu:
• Saragih: Sidauruk, Sidabalok, Siadari, Simarmata, Simanihuruk, Sidabutar, Munthe dan Sijabat
• Purba: Manorsa, Simamora, Sigulang Batu, Parhorbo, Sitorus dan Pantomhobon
• Damanik: Malau, Limbong, Sagala, Gurning dan Manikraja
• Sinaga: Sipayung, Sihaloho, Sinurat dan Sitopu

Selain itu ada juga marga-marga lain yang bukan marga Asli Simalungun tetapi kadang merasakan dirinya sebagai bagian dari suku Simalungun, seperti Lingga, Manurung, Butar-butar dan Sirait.
Zaman raja-raja Simalungun, orang yang tidak jelas garis keturunannya dari raja-raja disebut “jolma tuhe-tuhe” atau “silawar” (pendatang). Fenomena sosial ini diakibatkan adanya hukum marga yang keras di Simalungun menyatukan dirinya dengan marga raja-raja agar mendapat hak hidup di Simalungun.

Demikianlah sehingga makin bertambah banyak marga di Simalungun. Tetapi meski demikian sejak dahulu hanya ada empat marga pokok di Simalungun yakni Sisadapur : Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba.

Setelah raja-raja dikuasai Belanda sejak ditandatanganinya Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) tahun 1907 dan dihapuskannya kerajaan/feodalisme dalam aksi Revolusi Sosial tanggal 3 Maret 1946 sampai April 1947, peraturan tentang marga itu hapus di Simalungun. Masing-masing marga kembali lagi ke marga aslinya dan ke sukunya semula.
Penambahan Marga

Pada tahun 1930, Pdt. J. Wismar Saragih pernah menuliskan surat permohonan pada kumpulan Raja-Raja Simalungun yang berkumpul di Pematang Siantar yang meminta agar Raja-Raja tersebut menetapkan marga-marga baru sebagai tambahan kepada marga resmi Simalungun dengan maksud agar semakin banyak marga Simalungun seperti pada suku lain. Walaupun ide tersebut diterima oleh Raja-Raja tersebut namun permohonan J. Wismar Saragih belum disetujui karena belum tepat waktunya.

Karena alasan tersebut di atas, sebagian orang berpandangan bahwa masih ada kemungkinan bertambahnya Marga-marga di Simalungun. Hal ini senada dengan apa yang pernah dituliskan mengenai asal-usul beberapa Marga. Semisal Marga Saragih Garingging, yang disebut beberapa sumber berasal dari keturunan Pinangsori, dari Ajinembah (sebuah daerah di Kabupaten Karo) dan bermigrasi ke Raya sehingga bertemu dengan Raja Nagur dan dijadikan marga Saragih Garingging. Begitupun marga Purba Tambak, disebutkan berasal dari penduduk daerah Pagaruyung yang bermigrasi ke daerah Natal, kemudian ke Singkel, hingga tiba di daerah Tambak, Simalungun. Keturunannya kemudian menikah dengan keturunan Raja Nagur dan mereka dijadikan sebagai bagian dari Purba, yaitu Purba Tambak. Marga Damanik juga disebut sebagai pendatang yang menikah dengan keturunan Tuan Silampuyang yang bermarga Saragih dan kemudian diberi marga.
Perkerabatan Simalungun

Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal silsilah karena penentu partuturan (perkerabatan) di Simalungun adalah hasusuran (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal-usul anda)?”

Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih). Sebagian sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkimpoian antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, Raja Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri Raja Raya, Raja Purba dari Putri Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri Raja Raya atau Tongging.

Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:
• Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.
• Tutur Holmouan / Kelompok
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun
• Tutur Natipak / Kehormatan
Tutur Natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.

Pakaian Adat
Kain Adat Simalungun disebut Hiou. Penutup kepala lelaki disebut Gotong, penutup kepala wanita disebut Bulang, sedangkan yang kain yang disandang ataupun kain samping disebut Suri-suri.
Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung “kekuatan” yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.

Secara legenda ulos dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak dapat membakar (seperti api). Seperti suku lain di rumpun Batak, Simalungun memiliki kebiasaan “mambere hiou” (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.

Ulos dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain. Ulos dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri, ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Ulos dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut tolu sahundulan, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (abit).
Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik