Senin, 08 November 2010

Dr. J.R. Saragih Garingging, SH, MM : “Ingin Membangun Simalungun”

Jangan langsung main vonis, dengan mengandalkan kekuasaan. Ketika jadi pemimpin, itu yang saya lakukan.
Perjalanan hidup Dr. J.R. Saragih Garingging, SH, MM, memang berliku. Calon Bupati Simalungun periode 2010–2015 ini, lahir di Simalungun, 10 November 1968. Baru berusia setahun, ayahnya, Rasen Saragih, berpulang. Lantas, sepupu Prof. Dr. Bungaran Saragih, M.Ec. ini ikut neneknya (ibunda Rasen Saragih), E. Br. Purba, di Kecamatan Raya, Simalungun. Di sini, ia sempat bersekolah sampai kelas 4 SD. Lalu, neneknya juga wafat.
Saragih muda lalu hidup bersama nenek (orang tua ibunya) di Tanah Karo. Sementara ibunya menikah lagi dan dikaruniai anak, Hj. Karyawati Ginting, Margono Ginting, SE, dan Bela Raja Ginting Esko. Sedangkan saudara kandung J.R. Saragih adalah Tini Saragih, Haji Dr. Anton Saragih, SE, MM, Riston Saragih, Drs. Agus Saragih, dan Drs. Heri Saragih. Jadi J.R. Saragih adalah putra keenam dari pasangan Rasen Saragih dengan Netty Br. Sembiring.
Penuh Perjuangan
Di Kecamatan Munthe, Tanah Karo, J.R (Jopinus Ramli) Saragih, hanya bersekolah sampai kelas 6 SD. Kemudian ia pergi ke Pematang Siantar. J.R kecil sempat menjadi tukang semir sepatu. Lalu, selama tiga tahun menjadi kenek bus. Terakhir bus Makmur jurusan Medan-Jambi. Kadang-kadang ia bisa makan satu hari sekali dan kadang tidak.
Suatu hari, ia bertemu dengan seseorang yang menyuruhnya sekolah agar kelak ia bisa menjadi orang yang berguna. “Saya lupa siapa orangnya. Tapi dia supir,” kenang ayah satu putri ini. Kembalilah ia ke Kecamatan Munthe, Tanah Karo, dan sekolah di SMP. “Di SMP saya beternak ayam, ikan, dan kuda,” cerita J.R. Saragih, saat ditemui di Pematang Raya, Kecamatan Raya, Kab. Simalungun, kepada AGRINA, Senin (9/8).
Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Tabloid AGRINA versi Cetak volume 6 Edisi No. 135 yang terbit pada Rabu, 18 Agustus 2010.


sumber : agrina 

Rabu, 03 November 2010

KERUNTUHAN MONARCHI SIMALUNGUN

 BANGUN DAN RUNTUHNYA KERAJAAN SIMALUNGUN SUMATERA TIMUR

Oleh: Erond Litno Damanik, M.Si

1.Pengantar.

Riwayat asal mula kerajaan Simalungun hingga kini belum diketahui pasti, terutama tentang kerajaan pertama yakni Nagur (Nagore, Nakureh). Demikian pula kerajaan Batanghiou serta Tanjung Kasau. Kehidupan kerajaan ini hanya dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan petualang dunia terutama Marcopolo dan petualang dari Tiongkok ataupun dari hikayat-hikayat (poestaha partikkian) yang meriwayatkan kerajaan tersebut. Di zaman purba wilayah Simalungun mempunyai 2 buah kerajaan besar yaitu pertama kerajaan Nagur yang ada di dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai-sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Pada masa itu, kerajaan Simalungun dikenal dengan nama harajaon na dua (kerajaan yang Dua)Selanjutnya, diketahui bahwa pasca keruntuhan kerajaan Nagur, maka terbentuklah harajaon na opat (kerajaan Berempat) yaitu: Siantar, Tanoh Jawa, Panai dan Dolog Silau. Ke-empat kerajaan ini menjadi populer pada saat masuknya pengusaha kolonial Belanda, dimana tiga kerajaan yakni Tanoh Jawa, Siantar dan Panei bekerjasama dengan pengusaha kolonial dalam memperoleh perijinan tanah. Setelah masuknya Belanda terutama sejak penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) maka tiga (3) daerah takluk (partuanan) Dolog Silau di naikkan statusnya menjadi kerajaan yang sah dan berdiri sendiri, yakni Silimakuta, Purba dan Raya. Pada saat itu, kerajaan di Simalungun dikenal dengan nama harajaon na pitu (kerajaan yang Tujuh). Simalungun Sumatera Timur.Akhir dari kerajaan Simalungun ini adalah terjadinya amarah massa pada tahun 1946 yang dikenal dengan revolusi Sosial. Sejak saat itu, peradapan rumah bolon (kerajaan) Simalungun punah selama-lamanya. Dengan uraian singkat diatas, penulis berkeinginan untuk menulis kembali sejarah berdiri dan hanucrnya kerajaan.Atas dasar inilah, penulis berkeinginan untuk mendeskripsikan kembali sejarah bangun dan hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur yang banyak diriwayatkan dalam sejarah Simalungun.

2. Tiga fase Kerajaan Simalungun.

Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Seperti yang dikemukakan diatas bahwa asal muasal kerajaan Simalungun tidak diketahui secara pasti terutama dua kerajaan terdahulu yakni Nagur dan Batanghiou. Sinar (1981) mengemukakan bahwa kerajaan Nagur telah ada dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. Kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Kendati konsepsi raja dan kerajaan di Simalungun masih kabur, akan tetapi, Kroesen (1904:50 mengemukakan bahwa konsep raja dan kerajaan itu berasal dari orang Simalungun itu sendiri sebagai perwujudan otonomi kekuasaan yang lebih tinggi. Bangun dalam Saragih (2000:310) mengemukakan bahwa kata ‘raja’ berasal dari India yaitu ‘raj’ yang menggambarkan pengkultusan individu penguasa. Mungkin saja konsep itu terbawa ke Simalungun akibat penetrasi kerajaan Hindu-Jawa seperti Mataram lama pada masa ekspansi ke Sumatera Timur (Tideman,1922:58). Lebih lanjut dikemukakan bahwa pengaruh Hindu di Simalungun dapat diamati langsung dari bentuk peninggalan yang mencerminkan pengaruh Hindu-Jawa. Nama kerajaan Tanoh Djawa setidaknya telah mendukung argumentasi itu Menurut sumber Cina yakni Ying-yai Sheng-ian, pada tahun 1416, kerajaan Nagur (tertulis nakkur) berpusat di Piddie dekat pantai barat Aceh Dikisahkan bahwa raja nagur berperang dengan raja samudra (Pasai) yang menyebabkan gugurnya raja Samodra akibat panah beracun pasukan Nagur. Pemaisuri kerajaan Samodra menuntut balas dan setelah diadakannya sayembara, maka raja Nagur berhasil ditewaskan. Kendati demikian, sejarawan Simalungun sepakat bahwa lokasi ataupun pematang kerajaan Nagur adalah di Pematang Kerasaan sekarang yang berada dekat kota Perdagangan terbukti dengan adanya konstruksi tua bekas kerajaan Nagur dari ekskavasi yang dilakukan oleh para ahli (Tideman, 1922:51). Mengenai polemik tentang lokasi defenitif kerajaan Nagur pernah berada dekat Pidie (Aceh) dapat dijelaskan sebagai akibat luasnya kerajaan Nagur. Oleh karenanya, raja Nagur menempatkan artileri panah beracunnya pada setiap perbatasan yang rentan dengan invasi asing. Kerajaan Batanghio, tidak ditemukan tulisan-tulisan resmi tentang riwatnya maupun pustaha yang mengisahkan asal-usulnya. Hanya saja Tideman (1922) menulis dalam nota laporan penjelasan mengenai Simalungun. Oleh para cerdik pandai Simalungun, Batanghio pada awalnya dipercaya sebagai partuanon Nagur, akan tetapi karena kemampuannya dan karena luasnya kerajaan Nagur, maka status partuanon itu diangkat menjadi kerajaan. Pada tahun 1293-1295, kerajaan Nagur dan Batanghio diinvasi kerajaan Singasari dengan rajanya yang terkenal, Kertanegara. Ekspedisi itu dikenal dengan ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Panglima Indrawarman yang berasal dari Damasraya Djambi (Wibawa, 2001:14-15) yang kemudian mendirikan Kerajaan (Dolog) Silou pada akhir abad XIV. Untuk mempertahankan, daerah vasalnya, maka raja nagur menyerahkan kekuasaannya kepada para panglima dan mempererat hubungan dengan pematang (central kekuasaan) semakin erat dan kokoh. Dengan demikian di Simalungun sampai pada tahun 1883 terdapat kerajaan yang sifatnya konfederasi (Dasuha dan Sinaga, 2003:31) yakni kerajaan Siantar (Damanik), Panei (Purba Dasuha), Dolog Silau (Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (Sinaga). Wilayah Dolog Silau yang begitu luas dan intensya pertikaian antar huta, maka dibentuklah tiga partuanon, yakni Partuanon Raya (Saragih Garinging), Partuanon Purba (Purba Pakpak) dan Partuanon Silimahuta (Purba Girsang). Strategi ini ditempuh untuk mempererat kekuasaan Dolog Silau dan tiga kerajaan besar lainnya. Setelah penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) pada tahun 1907 yang intinya tunduknya seluruhnya kerajaan kepada kolonial, maka untuk mempermudah urusan administrasi serta mempermuda politik devide et impera, maka status partuanon dari tiga partuanon Dolog Silou itu dinaikkan statusnya menjadi kerajaan. Yakni kerajaan Silimahuta (Purba Girsang) yang Pematang nya di Pematang Nagaribu, kerajaan Purba (Purba Pak-pak) dengan pematang di Pematang Raya. Dengan demikian setelah penandatanganan Korte Verklaring, Simalungun mengenal tujuh kerajaan yang bersifat konfederasi, yakni dikenal dengan sebutan Kerajaan nan tujuh (harajaon Na pitu-siebenvorsten) (Tambak,1982:20-128; Tideman,1922:3-11). Pasca penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) itu, maka oleh pemerintah kolonila Belanda, penguasa pribumi (native states) ditugaskan untuk mengurus daerahnya sendirinya sebagai penguasa swapraja. Sebagai penguasa daerah yang otonom mereka memiliki status sebagai kepala pemerintahan daerah. Penataan itu dilakukan sebagai upaya mempercepat aneksasi dan passifikasi daerah dalam upaya menjaga kondusifitas onderneming kolonial.Dalam poestaha hikayat Parpadanan na Bolak dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ayam (dayok nabinatur).Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing, Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masing-masing kerajaan di Simalungun dengan marga pemerintahnya adalah sebagai berikut: Fase Nama Kerajaan Marga Pemerintah
I Kerajaan yang dua Nagur Damanik
Batanghoiu Saragih
II Kerajaan yang Empat Siantar Damanik
Tanoh Jawa Sinaga
Dolog Silau Tambak
Panai Dasuha
III Kerajaan yang Tujuh Siantar Damanik
Tanoh Jawa Sinaga
Dolog Silau Tambak
Panai Dasuha
Raya Garingging
Purba Pakpak
Silimahuta Girsang


3. Runtuhnya Kerajaan Simalungun Sumatera Timur.

Kekhasan Sumatera Timur menjelang Indonesia merdeka tahun 1945 adalah adanya perbedaan-perbedaan kelas antara bangsawan dan rakyat jelata. Dalam masyarakat Simalungun, perbedaan kelas tersebut adalah seperti golongan parbapaan (bangsawan), partongah (pedagang), paruma (petani) dan jabolon (budak). Keadaan yang sama ada pada rakyat Melayu Sumatera Timur terutama antara Sulthan dan rakyat.Sebagai negera yang bari terbentuk, nasionalisme rakyat Indonesia masih mengental dan dapat dipahami apabila masih menaruh dendam terhadap feodalisme yang sebelumnya merupakan kaki tangan kolonial. Oleh karena itu, situasi rakyat yang masih baru merdeka, kemudian disulut dengan provokasi orang lain (organisasi) tak pelak lagi apabila kecemburuan sosial dapat berujuk revolusi massa yang menelan ongkos sosial yang tinggi. Termasuk punahnya sebuah peradapan di Sumatera Timur (Simalungun dan Melayu), dimana raja dan kerabatnya beserta istananya musnah selama-lamanya. Keadaan seperti ini berlanjut hingga memasuki tahun 1946 sehingga mendorong kebencian masyarakat terhadap golongan elit. Sejalan dengan itu, berkembangnya pemahaman politik pada waktu itu, turut pula menyulut keprihatinan terhadap perbedaan kelas yang didorong oleh keinginan untuk menghapuskan sistem feodalisme di Sumatera Timur.Demikianlah hingga akhirnya terjadi peristiwa berdarah yang meluluhlantakkan feodalisme di Sumatera Timur terutama pada rakyat Simalungun dan Melayu. Pada peristiwa tersebut empat dari tujuh kerajaan Simalungun yaitu Tanoh Jawa, Panai, Raya dan Silimakuta pada periode ketiga ini musnah dibakar. Sementara Silau, Purba dan Siantar luput dari serangan kebringasan massa. Raja dan kerabatnya banyak dibunuh. Peristiwa ini menelan banyak korban nyawa, harta dan benda. Kejadian yang sama juga menimpa kesultanan Melayu dimana empat kesultanan besarnya Langkat, Deli, Serdang serta Asahan dibakar dan lebih dari 90 sultan dan kerabatnya tewas dibunuh (Reid, 1980)Riwayat swapraja Simalungun telah berlalu setelah terjadinya revolusi sosial pada tahun 1946. Revolusi itu tidak saja menamatkan kerajaan tapi juga seluruh kerabat perangkat kerajaan dan keluraga raja yang mendapatkan hak istimewa dari pemerintah kolonial, sehingga telah meningkatkan kecemburuan sosial dari rakyat terhadap raja. Revolusi terjadi setelah rakyat diorganisir dan diagitasi oleh organisasi dan partai revolusioner di Simalungun. Sejak saat itu sistem kerajaan tradisional Simalungun menemui riwayatnya. Dalam arti lain, lenyapnya atau runtuhnya zaman keemasan monarhi itu telah pula menandai berakhirnya peradapan besar rumah bolon.

4. Penutup.

Bentuk peradapan Simalungun yang tidak dimiliki oleh sub etnik Batak lainnya terletak pada sistem pemerintahannya. Orang Simalungun mengenal sistem pemerintahan yang sangat jelas yaitu monarchis (kerajaan), suatu bnetuk pemerintahan yang dikepalai oleh raja beserta aparaturnya. Bentuk pemerintahan tersebut adalah bentuk persinggungan budaya Hindia yang masuk ke tanah Batak memasuki abad ke-4 yang membentuk kerajaan tertua di Sumatera yakni Nagur. Terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur adalah sebagai dampak dari gejolak amarah massa yang terjadi pada 6 Maret 1946 yang lebih dikenal dengan revolusi sosial terutama di wilayah Simalungun dan Melayu Sumatera Timur. Sejak saat itu, sistem pemerintahan swapraja Simalungun punah selama-lamanya.

Daftar Pustaka.

Anderson. John., 1823 Mission to the Eastcoast of Sumatra: Edinbrugh

Dasuha. Juandarahaya dan Marthin Lukito Sinaga., 2003. Tole!den Tomorlanden das Evanggelium. Sejarah Seratus Tahun Pekabaran Injil di Simalungun 2 September 1903-2003: Pematang Siantar: Kolportase GKPS

Kroesen, JA., 1893 Eene reis door de landschappen Tandjoeng Kassau, Siantar en Tanah Djawa. TBG XXXIX, p. 229-304.

Reid. Anthony., 1981., The Blood of the People, Revolution and the of Traditional rule in Nothern Sumatera. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Saragih .Hisarma., 1999. Zending di Tanah Batak: Study Tentang Konversi Dikalangan Masyarakat Simalungun 1903-1942. (Thesis Magister Humaniora). Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

Sinar, T. Luckman, 1981. Tuhan Sang Nahualu, Raja Siantar. Seminar Sejarah Nasional III, tanggal 12-11-1981 di Jakarta.

Tambak.,T.B.A., 1982. Sejarah Simalungun. Pematang Siantar: Yayasan Museum Simalungun.

Tiderman.J., 1922. Simeloengen: Het Land der Timoer Bataks in Zijn Ontwikling tot Een Deel Van het Kulturgebied van de Ooskust van Sumatera. Leiden: Stamdruskkerij Louis H. Beeherer 

sumber : mursaing 

Informasi Yang Keliru Tentang Saragih Permata

Pada edisi 2-3bln lalu di Majalah Budaya Simalungun “SAUHUR” ada informasi yg menurut sy adalah aneh,yaitu mengenai sejarah Morga Saragih Permata.
Pada postingan lawei Muhar Omtatok Saragih di milis barita-simalungun@yahoogroups.com diceritakan bhw morga Saragih Permata adalah marga keturunan dari Saragih Garingging sama hal-nya juga dgn Morga Saragih Jawak & Saragih Dasalak yg merupakan keturunan dari Saragih Garingging.
Pada topik Sejarah Morga Saragih Permata yang dimuat dalam Majalah Sauhur itu dikatakan bahwa Saragih Permata adalah keturunan dari perantau asal Samosir yang berpindah ke Raya dan kemudian menggunakan marga Saragih dengan cabang Permata karena berasal dari marga Simarmata sebelumnya di Samosir.
Ini jelas suatu kerancuan sejarah,karena jika mmg dia adalah Simarmata sebelumnya maka sama halnya dengan yang lain maka akan menjadi cabang dari Saragih Simarmata dan tidak membentuk cabang baru karena aslinya Saragih Permata adalah cabang dari Saragih Garingging penguasa di Raya,Simalungun.
Postingan yang kontroversi ini jelas membuat kegaduhan yang kemudian terlihat pada edisi berikutnya Redaksi Majalah Sauhur mendapat kritik dari pembacanya bahwa Sejarah Saragih Permata yang dimuat pada Majalah Sauhur tersebut adalah ngawur dan tidak berdasar.
Untunglah pihak redaksi SAUHUR melalui redaktur Lawei Muhar Omtatok Saragih segera melakukan klarifikasi pada edisi berikutnya sehingga artikel yang ngawur ini bisa segera dibantahkan,lolosnya artikel ini tidak lepas dari berangkatnya redaktur Majalah Sauhur tsb ke Jakarta sedangkan Majalah Sauhur masih kekurangan SDM dalam memeriksa artikel yang masuk selain itu juga krn kekurangan artikel yang mau disumbangkan secara sukarela pada Majalah Budaya Simalungun ini demi perkembangan bersama halak Simalungun di mana pun terutama di perantauan.
Informasi tentang Simalungun sangat banyak saat ini di berbagai website namun belum tentu benar,jadi wajib kita untuk sedikit  selektif dalam membaca beberapa artikel Sejarah dan Budaya Simalungun.Perhatikan juga apakah dari artikel tsb mempunyai “hidden agenda” atau tidak.
Beberapa artikel yang diposting oleh seseorang wartawan (entah masih sebagai karyawan Gatra atau tidak saat ini) dengan nama Julkifli Marbun atau kadangkala menggunakan nama “@Simalungun” pada beberapa blog yang ia buat (sekitar 15 blog lebih) lebih banyak berisikan informasi kabur dan karangan beliau,jadi kita wajib untuk lebih hati-hati dalam membaca postingan-postingan beliau terutama yang berkaitan dengan Sejarah dan Budaya Simalungun


Muhar Omtatok berkata

Terimakasih Lawei atas tanggapannya.
Sebagai Redaktur Pelaksana, saya sangat kecolongan atas tulisan Sdr. Masrul Purba tersebut,karena pada saat itu saya sedang berada di luar pulau dalam rangka pengobatan.
Secara pribadi, saya sangat menyayangkan kinerja Sdr Masrul Purba yang sebenarnya adalah potensi untuk Simalungun, bukan menulis sebuah kisah tanpa referensi yang cukup.
Dalam tulisan tersebut, ada beberapa nama yang ia pakai. Beberapa waktu lalu, turunan dari nama-nama yang dipakai dalam tulisan tersebut, sudah mengadakan pertemuan dan akan menempuh jalur hukum terhadap penulis.
Sekarang ini kita sedang mengumpulkan data untuk itu.
Diatte Tuppa


TARALAMSYAH SARAGIH SANG MAESTRO ITU

 Photo Kenangan Tuan Taralamsyah Saragih Garingging & Istri Siti Mayun Br Regar-1975


 Tuan Taralamsyah Saragih


Tuan Taralamsyah Saragih Garingging adalah salah seorang bangsawan Simalungun yang memiliki kepedulian terhadap seni, budaya dan sejarah Simalungun. Penguasaannya terhadap Sejarah, Seni dan Kebudayaan Simalungun khususnya, perlu dihargai dan dikenang meskipun beliau telah lama berpulang.
Tuan Taralamsyah Saragih
Arlin Dietrich Jansen saat menyusun Thesis Doctor of Philosophy (Ph.D), dengan judul Gonrang Music  : Its structure and functions in Simalungun Batak Society in Sumatra / University of Washington, 1980, mengakui meskipun ia belum bertemu sua dengan Taralamsyah Saragih, namun koresponden yang ia lakukan dengan Taralamsyah Saragih, sangat banyak menjadi rujukan dalam thesis yang sudah menjadi buku ini.

Banyak penulis buku mengenai Simalungun mengutip pendapat Taralamsyah Saragih. Ia dengan tegas menyebutkan Rumah Bolon Nagur berada di Nagurusang (kini masuk Kab. Serdang Bedagai). Pendapat ini secara lugas dikutip Sejarahwan Dada Mauraxa, misalnya.

Taralamsyah Saragih yang menyelesaikan pendidikan formal di Holandse Inlandse School (HIS) Simalungun ini, misalnya dalam surat pribadi,1963, menjelaskan jika orang Simalungun asli itu merupakan keturunan dari empat raja-raja besar yang berasal dari Siam dan India dengan rakyatnya masuk ke Sumatera Timur terus ke Aceh, Langkat dan daerah Bangun Purba dan Bandar Kalifah sampai Batubara. Akibat desakan orang “Djau”, berangsur-angsur mereka mencapai pinggiran Danau Toba sampai ke Samosir. Adapun keempat marga-marga Simalungun yang populer Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba berasal dari “harungguan bolon” (permusyawaratan besar) raja-raja yang empat itu agar jangan saling menyerang, bermusuhan dan “marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munsuh”.

Mengenai Keturunannya morga Sinaga Dadihoyong di Kerajaan Tanoh Jawa, Batangiou di Asahan. Taralamsyah Saragih menjelaskan, “Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad ke 14 , pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batangiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga. Nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Jawa dengan morga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang morga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (Sibijaon)”.

Sosok multi talenta yang mampu bermain berbagai alat musik, mencipta lagu, menari dan mengkoreografi tari serta kepeduliannya terhadap Simalungun, sudah jarang kita temukan saat ini dikalangan masyarakat Simalungun. namun Tuan Taralamsyah Saragih Garingging memiliki semua itu.

Terlahir di lingkungan Rumah bolon (Istana) di Pamatang Raya – Simalungun, Ahad 18 Agustus 1918.  Menikah saat berusia 26 tahun dengan Siti Mayun br Regar pada Sabtu 25 November 1944, dan dianugrahi 3 orang putra dan 9 putri.

Mansen Purba, SH (Alm) saat menjadi Sekretaris Rektor Universitas Simalungun (USI), 1967, pernah berkreasi bersama dengan Taralamsyah Saragih. Dalam catatan Mansen Purba menulis, “Aku juga mengusahakan agar USI berperan sebagai pusat kegiatan kebudayaan. Salah satunya adalah di kala kuprakarsai pagelaran Semalam di Simalungun, karya Taralamsyah Saragih, dengan penari utama Nangkir Saragih, dari Medan. Setelah latihan di Medan, rombongan penari menginap di USI, sebelum pertunjukan digelar di Aula Nommensen. Sekaligus aku berharap pagelaran tersebut dapat menjadi sumber penghasilan bagi seniman sekaliber Taralamsyah Saragih yang waktu itu kurang mendapat perhatian”.

“Berkat dukungan moril dari Komandan Korem Laiku Silangit (Tarigan/Purba Silangit asal Gunung Mariah), pagelaran tersebut sukses, baik dari segi pagelaran keseniannya maupun dari segi finansial. Sayangnya, Nangkir Saragih sebagai penari utama ‘menodong’ Taralamsyah sesaat sebelum pertunjukan. Ia minta bayaran yang sangat besar, jika tidak dipenuhi, akan mengundurkan diri. Taralamsyah terpaksa mengabulkannya, dan karena itu yang tersisa untuk Taralamsyah hampir tidak ada”, tambah Mansen Purba.

“Sejak itu Tulang Taralamsyah sempat tinggal bersama kami di USI, menempati salah satu kamar di Lantai-2. Disela-sela kegiatannya menulis, pada malam hari beliau berdendang dengan clarinetnya. Masa itulah Tulang Taralamsyah merampungkan bukunya berisi sejarah Kerajaan Raya dan silsilah Raja Raya serta penyebaran keturunan Raja Raya. Nama Taralamsyah Saragih dan nama Inangku tercantum sebagai generasi ke-15, yang berarti aku generasi ke-16. Naskahnya diserahkan kepadaku agar kuterbitkan. Saat aku sudah pindah ke Medan, naskahnya kuketik ulang, kemudian difotocopy diperkecil 50%, dan akhirnya kuterbitkan setelah ku-offset di Percetakan Tapian Raya, dengan biaya sendiri. Judulnya “Saragih Garingging”. Tulang Taralamsyah sangat berharap mendapat honor dari penerbitan tersebut, tetapi hanya sedikit yang sempat kukirimkan, karena penjualan buku tersebut tersendat”.
"Sang Maestro yang tak dikenang" oleh Muhar Omtatok
Website Taman Budaya Jambi menuliskan tentang Tuan Taralamsyah Saragih, “Kehadirannya di Jambi sejak pertengahan tahun 1971 atas permintaan Gubernur R.M. Noer Atmadibrata pada waktu itu, telah menambah khasanah bagi perkembangan dunia kesenian Jambi. Menurut H. Tamjid Widjaya, salah seorang sahabat dan murid terdekatnya mengatakan bahwa beliau umpama besi berani, mengumpulkan dan menyatukan serbuk-serbuk besi yang berserakan di sekitarnya. Beliau juga merupakan figure seorang guru dan sekaligus bapak yang mampu meletakkan porsinya dalam mendidik murid-muridnya, mereka semua dianggap seperti anak sendiri. Jadi tidak hanya mengajarkan ilmu keseniannya tapi juga memberikan bekal hidup bagi diri saya secara pribadi, kenang H. Tamjid Widjaya yang musisi dan pencipta lagu-lagu Jambi ini.

Pada tahun 1978, Gubernur Jambi Jamaluddin Tambunan, pernah menginstruksikan untuk melaksanakan penelitian dan pencatatan seni musik dan tari daerah Jambi, yang langsung dipercayakan kepada Taralamsyah Saragih sebagai ketua teamnya, dengan anggota Surya Dharma, Tamjid Widjaya, OK. Hundrick, Marzuki Llazim dan M. Syafei Ade, yang kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku yang masih berupa manuskrip dengan judul Ensiklopesi Musik dan Tari Daerah Jambi”.

Semasa hidupnya banyak pekerjaan dan kegiatan yang mengarah pada seni dan budaya ia lakoni. Sebut saja sebagai Pembina serta piñata tari dan musik yang bertolak dari tradisi Simalungun dan melayu, Pimpinan Orkes Keroncong Pematang Siantar (1936-1941), Perkumpulan musik Siantar Beki Dan (1942-1946), Badan Kesenian Simalungun di Medan (1952-1953), Dosen sejarah di Universitas Sumatera Utara (1968-1970), mengelola kesenian di Jambi sejak 1971 serta serentetan kreatifitas yang perlu diperhitungkan.

Penguasaan beliau terhadap seni musik, khususnya gual Simalungun, sulit kita temukan tandingnya pada saat ini. Saat sebelum Revolusi Sosial 1946, Taralamsyah Saragih pernah menjelaskan bahwa sangat banyak jenis musik khas Simalungun yang dahulu mereka pelajari, namun saat Revolusi Sosial tersebut, sekian banyak peralatan musik Simalungun yang kini tidak kita temukan lagi, turut terbakar di dalam istana kerajaan Raya.

Dalam ranah tari Simalungun, banyak jenis tari lahir dari koreografinya. Sebut saja tari Sitalasari (1946), Pamuhun, Simodak odak, Haro-haro (1952), Sombah ( merupakan penyelarasan tortour Sombah yang telah lahir dari akar leluhur, 1953), Runten Tolo (1954), Nasiaran (1955), Makail, Manduda (1957), Haroan Bolon (1959), Uou (1960), Tembakan (1964), Panak Boru Napitu (1966), Erpangir (1968) serta banyak lagi tari dan sendratari yang ia ciptakan dari tangan dinginnya.

Dalam ranah seni suara Simalungun, Taralamsyah Saragih telah banyak menciptakan lagu Simalungun, sebut saja: Lagu Eta Mangalop Boru, Parmaluan, Hiranan, Inggou Parlajang, Tarluda, Parsonduk Dua, Padan Na So Suhun, Tading Maetek, Pamuhunan, Paima Na So Saud, Sihala Sitaromtom, Sanggulung Balunbalun, Ririd Panonggor, Marsalop Ari, Mungutni Namatua, Pindah-Pindah, Inggou Mariah, Uhur Marsirahutan, Poldung Sirotap Padan, Bujur Jehan, Simodak Odak (ciptaan bersama dengan Tuan Jan Kaduk Saragih), serta yang lainnya.

Ada pula beberapa lagu tradisi Simalungun yang ia gubah kembali, seperti Parsirangan , Doding Manduda (ilah tradisi dari Ilah I Losung), Ilah Nasiholan, Marsigumbangi dan Na Majetter (ilah tradisi dari Ilah Bolon).
Terus menghidupkan kesenian dan berkarya, begitu mungkin yang ditekadkan Taralamsyah Saragih dalam mengisi kehidupan. Walaupun hujan duit belum dan tak akan pernah ia rasakan, tapi Sang Bangsawan ini telah melahirkan banyak karya yang belum pernah dimasukkan dalam Hak Kekayaan Intelektual itu.

Tepat pada hari Senin tanggal 1 Maret 1993 di Jambi, Tuan Taralamsyah Saragih Garingging menghembuskan nafas terakhir, disaat sedang menyusun dan  ingin merampungkan Kamus Simalungun yang ia susun dari tahun 1960-an dan hingga kini belum diterbitkan.

sumber :  M Muhar Omtatok

MARGA SIMALUNGUN

Marga Simalungun merujuk kepada nama keluarga atau marga yang dipakai di belakang nama depan masyarakat Simalungun yang berasal dari daerah Kabupaten Simalungun. Ada 4 marga asli dari Simalungun: Damanik, Purba, Saragih dan Sinaga. Keempat marga tersebut berasal dari marga raja-raja di Simalungun yang bermufakat untuk tidak saling menyerang. Beberapa marga dari luar Simalungun kemudian menganggap dirinya sebagai bagian dari 4 marga tersebut ketika mereka menetap di Simalungun. Sebagai suku yang menganut Paterilinear, marga pada suku Simalungun diturunkan melalui garis Ayah, oleh karena itu orang yang memiliki marga yang sama dianggap sebagai kakak-adik sehingga tidak diperbolehkan untuk saling menikah.

[sunting] Asal-Usul

Sejarah asal-usul dari marga-marga yang ada di dalam suku Simalungun sangatlah minim, namun beberapa sumber tertulis menyatakan bahwa ada 4 marga asli dalam Suku Simalungun yang biasa diberi akronim SISADAPUR.[1] Beberapa sumber juga menyatakan bahwa 4 marga tersebut berasal dari “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (dalam bahasa simalungun yaitu: marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).
Keempat raja itu adalah[2]:

[sunting] Raja Nagur bermarga Damanik

Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).
Raja ini berasal dari kaum bangsawan India Selatan dari Kerajaan Nagore. Pada abad ke-12, keturunan raja Nagur ini mendapat serangan dari Raja Rajendra Chola dari India, yang mengakibatkan terusirnya mereka dari Pamatang Nagur di daerah Pulau Pandan hingga terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan jumlah puteranya:
  • Marah Silau (yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar)
  • Soro Tilu (yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola)
  • Timo Raya (yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)
Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang berasal dari Pulau Samosir dan mengaku Damanik di Simalungun.

[sunting] Raja Banua Sobou bermarga Saragih

Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragih berarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.
Keturunannya adalah:
  • Saragih Garingging yang pernah merantau ke Ajinembah dan kembali ke Raya.
  • Saragih Sumbayak keturunan Tuan Raya Tongah, Pamajuhi, dan Bona ni Gonrang.
Saragih Garingging kemudian pecah menjadi 2, yaitu:
    • Dasalak, menjadi raja di Padang Badagei
    • Dajawak, merantau ke Rakutbesi dan Tanah Karo dan menjadi marga Ginting Jawak.
Walaupun jelas terlihat bahwa hanya ada 2 keturunan Raja Banua Sobou, pada zaman Tuan Rondahaim terdapat beberapa marga yang mengaku dirinya sebagai bagian dari Saragih (berafiliasi), yaitu: Turnip, Sidauruk, Simarmata, Sitanggang, Munthe, Sijabat, Sidabalok, Sidabukke, Simanihuruk.
Ada satu lagi marga yang mengaku sebagai bagian dari Saragih yaitu Pardalan Tapian, marga ini berasal dari daerah Samosir.
Rumah Bolon Raja Purba di Pematang Purba, Simalungun.

[sunting] Raja Banua Purba bermarga Purba

Purba menurut bahasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Purwa yang berarti timur, gelagat masa datang, pegatur, pemegang Undang-undang, tenungan pengetahuan, cendekiawan/sarjana.
Keturunannya adalah: Tambak, Sigumonrong, Tua, Sidasuha (Sidadolog, Sidagambir). Kemudian ada lagi Purba Siborom Tanjung, Pakpak, Girsang, Tondang, Sihala, Raya.
Pada abad ke-18 ada beberapa marga Simamora dari Bakkara melalui Samosir untuk kemudian menetap di Haranggaol dan mengaku dirinya Purba. Purba keturunan Simamora ini kemudian menjadi Purba Manorsa dan tinggal di Tangga Batu dan Purbasaribu.

[sunting] Raja Saniang Naga bermarga Sinaga

Sinaga berarti Simada Naga, dimana Naga dalam mitologi dewa dikenal sebagai penebab Gempa dan Tanah Longsor.
Keturunannya adalah marga Sinaga di Kerajaan Tanah Jawa, Batangiou di Asahan.
Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad ke-14, pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batangiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga.
Menurut Taralamsyah Saragih, nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Djawa dengan marga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang marga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (Sibijaon).Tideman, 1922
Beberapa Sumber mengatakan bahwa Sinaga keturunan raja Tanoh Djawa berasal dari India, salah satunya adalah menrurut Tuan Gindo Sinaga keturunan dari Tuan Djorlang Hatara.
Beberapa keluarga besar Partongah Raja Tanoh Djawa menghubungkannya dengan daerah Nagaland (Tanah Naga) di India Timur yang berbatasan dengan Myanmar yang memang memiliki banyak persamaan dengan adat kebiasaan, postur wajah dan anatomi tubuh serta bahasa dengan suku Simalungun dan Batak lainnya.

[sunting] Marga-marga perbauran

Perbauran suku asli Simalungun dengan suku-suku di sekitarnya di Pulau Samosir, Silalahi, Karo, dan Pakpak menimbulkan marga-marga baru. Sebagian besar dari marga-marga ini merupakan marga yang telah ada di daerah/suku lain. Marga-marga tersebut yaitu:

[sunting] Saragih

  • Munthe
  • Siadari
  • Sidabutar
  • Sidabalok
  • Sidauruk
  • Simarmata
  • Simanihuruk
  • Sijabat

[sunting] Purba

  • Manorsa
  • Simamora
  • Sigulang Batu
  • Parhorbo
  • Sitorus
  • Pantomhobon
  • Sigumonrong
  • Pak-pak
  • manalu

[sunting] Damanik

  • Malau
  • Limbong
  • Sagala
  • Gurning
  • Manikraja
  • Tambak

[sunting] Sinaga

Sebagian marga di atas dikategorikan ke dalam salah satu marga Simalungun karena hubungan persaudaraan, perjanjian atau kerjasama antara kedua marga. Selain itu ada juga marga-marga lain yang bukan marga Asli Simalungun tetapi kadang merasakan dirinya sebagai bagian dari suku Simalungun, seperti Lingga, Manurung, Butar-butar dan Sirait.

[sunting] Marga Mengikuti Raja

Zaman raja-raja Simalungun, orang yang tidak jelas garis keturunannya dari raja-raja disebut “jolma tuhe-tuhe” atau “silawar” (pendatang). Fenomena sosial ini diakibatkan adanya hukum marga yang keras di Simalungun menyatukan dirinya dengan marga raja-raja agar mendapat hak hidup di Simalungun.
Demikianlah sehingga makin bertambah banyak marga di Simalungun. Tetapi meski demikian sejak dahulu hanya ada empat marga pokok di Simalungun yakni Sisadapur : Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba.
Setelah raja-raja dikuasai Belanda sejak ditandatanganinya Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) tahun 1907 dan dihapuskannya kerajaan/feodalisme dalam aksi Revolusi Sosial tanggal 3 Maret 1946 sampai April 1947, peraturan tentang marga itu menghilang dengan sendirinya di Simalungun. Masing-masing marga kembali lagi ke marga aslinya dan ke sukunya semula.

[sunting] Penambahan Marga

Pada tahun 1930, Pdt. J. Wismar Saragih pernah menuliskan surat permohonan pada kumpulan Raja-Raja Simalungun yang berkumpul di Pematang Siantar yang meminta agar Raja-Raja tersebut menetapkan marga-marga baru sebagai tambahan kepada marga resmi Simalungun dengan maksud agar semakin banyak marga Simalungun seperti pada suku lain. Walaupun ide tersebut diterima oleh Raja-Raja tersebut namun permohonan J. Wismar Saragih belum disetujui karena belum tepat waktunya.
Karena alasan tersebut di atas, sebagian orang berpandangan bahwa masih ada kemungkinan bertambahnya Marga-marga di Simalungun. Hal ini senada dengan apa yang pernah dituliskan mengenai asal-usul beberapa Marga. Semisal Marga Saragih Garingging, yang disebut beberapa sumber berasal dari keturunan Pinangsori, dari Ajinembah (sebuah daerah di Kabupaten Karo) dan bermigrasi ke Raya sehingga bertemu dengan Raja Nagur dan dijadikan marga Saragih Garingging.[3] Begitupun marga Purba Tambak, disebutkan berasal dari penduduk daerah Pagaruyung yang bermigrasi ke daerah Natal, kemudian ke Singkel, hingga tiba di daerah Tambak, Simalungun. Keturunannya kemudian menikah dengan keturunan Raja Nagur dan mereka dijadikan sebagai bagian dari Purba, yaitu Purba Tambak.[4] Marga Damanik juga disebut sebagai pendatang yang menikah dengan keturunan Tuan Silampuyang yang bermarga Saragih dan kemudian diberi marga.

[sunting] Adat

Sebagai suku yang bersifat Paterilinear, Suku Simalungun menurunkan marganya melalui garis keturunan Pria, dengan demikian marga seorang ayah akan diteruskan ke putera/puterinya. Oleh karena itu 2 orang yang memiliki marga yang sama akan saling menganggap diri mereka sebagai saudara seketurunan sehingga dipantangkan (tidak diperbolehkan) untuk saling menikah.
Bagi Wanita, marga disebutkan sesudah kata boru (biasa disingkat br.), sehingga jika ada seorang wanita bernama Sofia yang lahir dari ayah bermarga Saragih, maka akan dipanggil sebagai Sofia boru Saragih. Saat seorang wanita Simalungun menikah dengan lelaki dari marga lain, biasanya ia akan menggunakan marga suaminya tersebut pada namanya. Sehingga jika Sofia boru Saragih menikah dengan marga Purba, maka ia akan dipanggil sebagai Sofia Purba boru Saragih.


sumber : wikipedia

Senin, 01 November 2010

Sejarah Saragih Garingging

Setahuku di simalungun kurang mempermasalahkan no urut, tidak seperti saudara kita dari batak toba yang tahu persis no urutnya mulai dari raja batak. Tapi bagi kita sekarang mungkin perlu juga tahu sudah generasi ke berapa kita bila dilihat dari marga kita. Mungkin setiap perlu mencari sejarah marganya masing2.
Tapi untuk sejarah garingging, mungkin cerita berikut perlu dibaca (saya lupa dapat darimana)
Selamat membaca......

Andai kerbau-kerbau dapat bicara, salah satu memoar mereka mungkin akan seperti ini….

"Panggil saya Sinanggalutu. Itu nama saya. Jangan tanya nama itu diambil darimana. Dan jangan tanya kenapa. Jangan tanya bagaimana mulanya. Dan jangan tanya apa artinya. Saya samasekali tak tahu. Saya hanya seekor kerbau. Hidup di tahun 1400-an. Di sebuah wilayah di Simalungun, Sumatera Utara.
Majikan yang empunya saya bernama Pinang Sori. Atau Si Pinang Sori. Ia sangat sayang kepada saya. Ia gembala saya tetapi sekaligus juga sohib. Sepanjang hidup saya kami tidak pernah berpisah. Saya bersamanya ketika ia masih bocah. Dan saya berharap ia tetap setia hingga saya mati nanti (hm… saya tak berani menyebut berpulang. Berpulang hanya untuk manusia, bukan?). Untuk itu lah tulisan ini saya buat. Untuk menceritakan majikan yang menyenangkan itu. Sebagai tanda cinta dan tanda hormat bagi dia yang penyayang dan pemurah.

Majikan saya itu bukan orang sembarangan. Ia putra sulung raja. Ayahnya Raja Aji Nembah. Raja yang berkuasa di Aji Nembah, sebuah tempat di wilayah Tanah Karo.

Pinang Sori atau Tuan Pinang Sori –sebutan formalnya sebagai putra raja-- sejak bocah sudah jadi anak yang rajin. Ia rajin menggembala kerbau. Kerbaunya banyak, tetapi saya lah yang paling ia sayangi. Itu bukan rahasia. Kepada siapa pun ia selalu mengatakan, kerbau kesayangannya adalah saya, Sinanggalutu. Saya lah yang jadi kerbau tunggangannya kemana pun dia pergi. Di kala sedih, tak segan-segan ia menceritakan apa saja yang mengganjal di hatinya. Tak ada yang disembunyikannya dari hadapan saya. Sebab, siapa lagi yang dapat dia percaya?

Bukan sombong atau membanggakan diri. Saya memang kerbau yang istimewa. Paling tidak di mata orang-orang yang pernah melihat saya. Mungkin karena perawakan saya yang besar. Ada yang berkata punggung saya demikian lebarnya sehingga cukup untuk memuat empat orang duduk bersila. Yang lain berkata bekas jejak kaki saya dapat memuat sebutir kelapa. Tetapi dugaan saya, Pinang Sori lebih sayang dan lebih percaya lagi kepada saya karena saya seekor kerbau, yang patuh dan tak pernah membantah keinginannya. Saya kan bukan manusia yang punya intrik dan ambisi, seperti orang-orang di sekitar istana ayahnya?.

Ketika Pinang Sori berusia 10 tahun, sebuah peristiwa terjadi. Ini lah peristiwa yang mengubah sejarah dia, dan juga hidup saya. Peristiwa yang melemparkan kami kepada petualangan besar. Petualangan yang belakangan hari saya yakin akan menciptakan sejarah lahirnya kerajaan baru. Yang lebih besar dan lebih dikenang. Petualangan yang menjadikan saya kerbau istimewa.

Peristiwa itu bermula ketika Pinang Sori berusia 10 tahun. Pada suatu hari, seperti biasa ia melakukan kegemarannya menggembalakan kami, kerbau-kerbaunya ke padang penggembalaan. Dan, kalau sudah begitu, Pinang Sori akan terlihat begitu gembira. Kami bisa merasakan itu. Padang penggembalaan adalah hiburan baginya, sama seperti kami, kerbau-kerbaunya, yang juga menggembirakannya dengan tingkah kami yang dungu-dungu lucu.

Ketika matahari sudah mulai tinggi, Pinang Sori berniat pulang untuk bersantap siang bersama ayahnya di istana. Namun, baru saja ia berberes-beres, seorang hulubalang raja tiba di tempat kami, di padang penggembalaan itu. Hulubalang itu berkata bahwa ia diperintahkan raja untuk menyampaikan pesan agar Pinang Sori meneruskan penggembalaannya ke padang yang lebih jauh lagi. "Raja berkata agar Tuan pergi menggembala lebih jauh lagi, karena beliau ingin bersantap," begitu lah hulubalang itu berkata.

Pinang Sori menurut saja.

Keesokan harinya ketika tiba waktunya makan siang, Pinang Sori kembali bersiap untuk pulang. Namun, kejadian kemarin terulang. Hulubalang muncul dan berkata bahwa raja menginginkan Pinang Sori menggembala lebih jauh, sebab raja ingin bersantap siang.

Kejadian seperti itu terjadi sampai enam kali. Dan, siapa pun di posisi seperti majikan saya pasti akan bertanya-tanya. Kenapa gerangan tiap kali tiba waktu makan siang, ayahnya justru menyuruh dia untuk menggembala lebih jauh lagi? Apakah sang ayah tak menginginkannya menemaninya makan siang? Apakah kehadirannya sudah tak diperlukan?

Saya melihat majikan saya sedih dan kecewa. Berkali-kali ia bertanya kepada saya apa kira-kira maksud ayahnya untuk menyuruhnya pergi lebih jauh lagi. Saya tak bisa menjawabnya. Saya hanya bisa melenguh panjang pertanda turut bersimpati. Terus terang, lika-liku pikiran manusia tak terjangkau oleh pikiran saya. Apalagi ini menyangkut politik istana yang ribet dan berbelit.

Akibat kejadian itu Pinang Sori tak berani pulang. Ia menghabiskan hari-harinya di padang penggembalaan. Kami, kerbau-kerbaunya juga tak pernah lagi menginjakkan kaki ke kampung halaman Pinang Sori.

Suatu hari kami melihat Permaisuri muncul di padang penggembalaan. Ia rupanya mengajak Pinang Sori untuk kembali ke istana. Permaisuri mempertanyakan mengapa Pinang Sori tak juga pulang, padahal raja sudah berulang kali meminta hulubalang menjemput dia.

Melihat kedatangan ibunya, Pinang Sori justru bertambah kecewa. Ia berpikir memang benarlah ayahnya tak lagi menginginkan dirinya. Buktinya ia hanya mengutus ibunya untuk menjemputnya. Itu berarti hanya ibunya lah yang merindukannya. Ayahnya tidak. Dan karena itu Pinang Sori menolak untuk pulang.

Saya melihat permaisuri menangis menyadari Pinang Sori menolak ajakan pulang. Pinang Sori juga begitu. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. Tetapi apa mau dikata. Pinang Sori tetap memilih tinggal di padang penggembalaan. Dalam hemat dia, tidak ada gunanya lagi ia berada di istana. Ia tidak lagi dianggap ada.

(Di kemudian hari, kami tahu Pinang Sori hanya lah korban dari intrik istana. Tidak betul kalau ayahnya tak menginginkannya lagi. Sesungguhnya, setiap kali tiba waktu makan siang, raja mengutus hulubalang untuk menjemputnya. Tetapi hulubalang itu justru memutarbalikkan perintah. Alih-alih menyampaikan ajakan raja, hulubalang justru menyuruh Pinang Sori menggembala lebih jauh lagi. Tetapi apa daya, info ini diketahui Pinang Sori setelah 'nasi sudah jadi bubur.')

Setelah beberapa waktu tinggal di padang penggembalaan, saya melihat Pinang Sori bersiap-siap seperti hendak bepergian jauh. Ia pergi ke sungai dan memenuhi tatabunya (tatabu = tabung terbuat dari bambu, dijadikan tempat menyimpan air) dengan air. Tak berapa lama, kami kerbau-kerbaunya juga ia persiapkan. Rupanya memang benar, kami akan bepergian jauh. Ia naik di punggung saya. Di belakang kami kerbau-kerbau lainnya berjalan beriring. Juga enam orang anak buah Pinang Sori turut serta. Kami berjalan ke arah sebuah desa bernama Garingging, yang tergolong masih berada di wilayah kerajaan Aji Nembah. Dan kemudian, kami menetap di desa ini.

Enam tahun lamanya Pinang Sori menjadi warga Garingging. Setelah berusia 16 tahun ia merasa saatnya untuk berpetualang lagi. Kami pun mempersiapkan diri. Tatabu yang berisi air dari Ajinembah dulu masih tetap utuh dan turut serta dibawa dalam petualangan ini. Seperti biasa, Pinang Sori berada di atas punggung saya di depan, diiringi oleh anak buahnya beserta kerbau-kerbau yang lain. Kami menuju ke arah Timur memasuki wilayah Kerajaan Nagur, wilayah yang dewasa ini dikenal sebagai Kabupaten Simalungun. Di sini kami menemukan sebuah kawasan hutan lebat.

Pinang Sori ternyata menyukai tempat itu. Saya mengatakan begitu karena tak lama kemudian ia sudah mempersiapkan saya untuk dia tunggangi. Dia mengarahkan perjalanan kami ke istana Raja Nagur. Rupanya ia menghadap untuk meminta izin agar diberi kesempatan mengerjakan hutan lebat itu. Raja Nagur ternyata mengabulkannya. Pinang Sori pun segera bekerja membuka perladangan di hutan lebat itu. Seperti yang sudah saya ceritakan tadi, majikan saya ini selain gembala yang rajin juga petani yang ulet. Kami kerbau-kerbaunya senang-senang saja membantunya bekerja.

Suatu hari saya melihat Pinang Sori duduk menyendiri. Sepertinya ada banyak yang dia pikirkan. Lalu dia bicara sendiri, berjalan ke sana ke mari di sekitar saya. Ia sepertinya ingin memecahkan suatu teka-teki dan seolah-olah mengajak saya bertukar pikiran meminta saran. Dari apa yang ia ceritakan saya akhirnya mengerti bahwa ia baru saja bermimpi. Dalam mimpi itu ia melihat seorang raja datang menemuinya. Raja itu memerintahkan Pinang Sori mengubah hutan yang kami tempati itu menjadi sebuah desa. Ia juga diminta memberi nama Raya Simbolon kepada desa itu.

Masih dalam mimpinya, sang raja juga meminta Pinang Sori mengambil dan menanamkan temburak kotoran saya di lahan yang tengah dikerjakannya.(temburak= tahi atau kotoran yang telah membusuk dan mengering bercampur dengan tanah). Demikian juga dengan air dalam tatabu yang dibawa dari Ajinembah, diminta agar dituangkan ke tempat air yang biasa digunakan Pinang Sori untuk mandi. (Kelak, saya dapat melihat bahwa ternyata hal ini berguna membantunya manakala diminta membuktikan diri sebagai pemilik desa yang didirikannya itu.)

Namun berbeda dengan sebelumnya, setelah dia selesai menceritakan mimpi itu, Pinang Sori saya lihat seperti merasa lepas. Ia terkesan telah mengerti dan mendapatkan sesuatu. Wajahnya terlihat cerah. Matanya berbinar-binar.

Hari-hari setelah itu, saya dapat melihat gairahnya bekerja lebih besar lagi. Rupanya mimpi itu memacu semangatnya. Ia tampaknya yakin perintah sang Raja untuk membuat hutan itu jadi sebuah desa adalah perintah Tuhan kepadanya. Setiap hari ia bekerja bersama para anak buahnya dan kami, kerbau-kerbaunya. Selain membuka lahan dan mengolahnya, Pinang Sori juga rajin berburu, terutama menembak burung memakai ultop. Ini bukan sekadar untuk mendapatkan daging sebagai lauk. Padi-padian dari tembolok burung-burung hasil buruannya, diperlukan sebagai benih untuk ditanam di ladangnya.

Begitu lah, Pinang Sori akhirnya berhasil membuka hutan itu jadi ladang yang subur. Dari tahun ke tahun lahan yang dikerjakan Pinang Sori makin memberi hasil. Padi, jagung dan umbi-umbian makin berlimpah dihasilkannya. Hal ini mendorong banyak orang mendatangi tempat kami dan meminta hasil ladang dari Pinang Sori. Rupanya, di daerah sekitar itu sebelumnya belum pernah ada ladang yang memberi hasil sebanyak itu.

Selain giat dan rajin, majikan saya orangnya pemurah. Tidak ditolaknya orang-orang yang datang meminta hasil bumi kepadanya. Sebaliknya ia memberikannya, yang membuat orang-orang terheran-heran. Pinang Sori memberikannya dengan cuma-cuma. Orang-orang yang pulang dari ladangnya dibanjirinya dengan hasil bumi, sampai-samapai mereka harus bersusah payah membawanya.

Hanya satu saja pesan Pinang Sori kepada orang-orang yang mendapatkan hasil bumninya. Yakni, apabila ada yang bertanya, dari siapa mereka mendapatkan rezeki itu, jawabnya: dari Raja Raya.

Syarat yang ringan itu tentu mereka terima dengan senang hati. Buktinya, makin hari makin banyak orang yang datang karena mendengar kabar ada Raja Raya yang pemurah di tempat kami. Rupanya orang-orang yang dalam perjalanan menuju pulang, tatkala ditanyai oleh yang berpapasan dengan mereka, segera menjawab bahwa hasil bumi itu didapat dari Raja Raya. Pinang Sori pun makin terkenal sebagai Raja Raya.

Berita tentang telah munculnya Raja Raya akhirnya sampai ke telinga Raja Nagur. Konon, Raja Nagur kaget kok bisa-bisanya muncul raja di daerah kekuasaannya tanpa sepengetahuannya. Itu lah barangkali sebabnya suatu hari Raja Nagur tiba-tiba saja sudah ada di tempat kami. Rupanya ia ingin menyelidiki kebenaran informasi tentang adanya Raja Raya tersebut. Ia menemui Pinang Sori di ladang dan langsung menanyakan, darimana ia mendapat kuasa sehingga berani mengklaim bahwa itu adalah kerajaannya.

"Saya mendapatkannya dari Tuhan (Naibata, red), " kata Pinang Sori, menjawab pertanyaan itu.
"Apakah kamu berani bersumpah atas apa yang kamu katakan itu?" Raja Nagur bertanya lagi.
"Berani," kata Pinang Sori.

Di zaman itu, bersumpah atau dalam Bahasa Simalungun, marbija, adalah sebuah cara untuk membuktikan kebenaran manakala ada dua pihak yang berkonflik. Pihak yang berbohong dipercaya akan 'termakan sumpah.' Ia akan mendapat celaka oleh sumpahnya itu sendiri.

Maka karena Pinang Sori sudah mengatakan berani bersumpah, ia dipersilakan melaksanakannya. Ia diminta bersumpah bahwa tanah yang ia klaim sebagai kerajaannya datangnya dari Tuhannya.

Saya sebenarnya agak heran. Mengapa Pinang Sori terlihat tidak takut sedikit pun? Bukankah kalau ia mengaku bahwa tanah itu adalah tanahnya, ia berarti berbohong. Sebab, bukankah tanah yang mereka kerjakan itu adalah hutan yang termasuk dalam wilayah kerajaan Nagur?

Ternyata majikan saya itu memang cerdik. Belakangan, saya mendengar ia bercerita kepada teman-temannya bahwa ia tak takut bersumpah karena ia ingat lagi perintah raja yang datang dalam mimpinya. Ia ingat perintah raja dalam mimpi yang mengatakan agar ia menanamkan temburak kotoran saya di ladang yang dikerjakannya itu dan menyimpan air dalam tatabu ke tempat air pemandian yang biasa dia gunakan. Karena tanah temburak itu memang benar adalah miliknya dan air dari tatabu itu memang juga adalah air miliknya yang dibawanya dari Ajinembah, maka Pinang Sori tak perlu termakan sumpah bila ia mengakui tanah yang dikerjakannya itu adalah tanahnya.

Itu lah sebabnya ia berani duduk di tengah ladangnya, di atas tanah tempat ia menanam temburak itu seraya berkata:

"Kalau tidak benar tanah ini tanah saya, dan air ini air saya, yang diberikan oleh Tuhan kepada saya, saya akan terkena kutuk. Tuhan mendengar sumpah saya ini."

Setelah Raja Nagur melihat keberanian Pinang Sori dan mendengar sumpahnya, ia pun jadi percaya dan mengakui Pinang Sori sebagai pemilik daerah itu. Beberapa waktu kemudian Pinang Sori bahkan menikah dengan putri tunggal Raja Nagur. Hasil pernikahan itu seorang putra, diberi nama Lajang Raya, yang lahir dua tahun kemudian.

Hari-hari selanjutnya dilalui Pinang Sori dengan menjadi menantu Nagur sekaligus juga menjadi panglima kepercayaannya. Pinang Sori banyak membantu sang mertua mengatasi pemberontakan di wilayah kerajaannya mau pun dalam menambah wilayah kerajaan melalui penaklukan-penaklukan baru. Pinang Sori juga membantu Raja Nagur memerangi musuh-musuh baru yang ingin merebut wilayah kerajaan Nagur. Pinang Sori menjadi menantu yang dipercaya oleh Raja Nagur.

Hari-hari Pinang Sori selalu ia lewatkan bersama saya. Tidak ada pertempuran yang dipimpinnya tanpa mengajak saya. Selalu saya bersama dia. Dari satu desa ke desa lain. Dari satu penaklukan ke penaklulan lain.

Setelah melalui banyak suka-duka mendampinginya, pengabdian saya kepada Pinang Sori berakhir oleh sebuah peristiwa yang tak kan pernah bisa saya lupakan. Itu terjadi di sebuah tempat tak jauh dari Padang Bolag.

Ketika itu, seperti biasanya, saya membawa Pinang Sori berperang melawan musuh. Dalam perang itu terjadi lah apa yang selama ini belum pernah terjadi. Tanpa saya sadari saya telah terluka. Mungkin terkena senjata musuh. Mungkin juga kesabet tandukan kerbau tunggangan lawan. Yang jelas saya terluka sangat parah. Pinang Sori tampaknya tak sempat lagi melindungi saya waktu itu.

Lebih jauh, Pinang Sori pun tampaknya sudah kewalahan. Makin lama pasukannya terdesak. Akibatnya, ia memutuskan untuk mudur. Ada dua pilihannya, pertama, mundur ke arah Raya Simbolon, kerajaan yang dirintisnya paling awal Atau kedua, mundur ke Ajinembah, kerajaan ayahnya yang juga tanah kelahirannya.

Dalam perjalanan mundur itu, saya merasakan kesakitan dan kelelahan yang amat sangat. Baru kali ini saya mengalami sakit dan lemah se-luar biasa itu. Waktu rasanya berjalan lambat. Sementara itu, saya belum melihat Pinang Sori memberi tanda-tanda kami bakal berhenti. Akhirnya, di sebuah jurang di Dolog Lubuk Raya, saya benar-benar menyerah. Saya samasekali tak dapat berjalan lagi. Saya tergeletak begitu saja. Tak mampu bergerak.

Saya melihat Pinang Sori masih berusaha membantu saya berdiri. Tetapi akhirnya ia tampaknya menyadari keadaan saya yang tak mungkin bangkit lagi. Wajahnya tampak sedih. Sampai-sampai ia tak mau jauh-jauh dari saya. Yang mengharukan dan sangat menyentuh animality ( perikehewanan, lawan dari humanity, pen) saya adalah tindakan Pinang Sori selanjutnya. Ia tidak membiarkan saya tinggal sendirian di jurang itu. Ia justru memutuskan agar kami beserta seluruh pasukannya berhenti sementara, sambil menunggu saya sembuh. Bahkan selanjutnya saya mendengar Pinang Sori memerintahkan pasukannya membuka daerah itu untuk dijadikan tempat mereka menetap. Di kemudian hari desa itu dinamai Sipinangsori.

Sayangnya, luka yang saya derita ternyata tak bisa tersembuhkan. Bahkan makin parah. Makin hari saya bertambah lemah. Pinang Sori sudah berusaha melakukan aneka pengobatan. Namun, tampaknya tak ada lagi gunanya. Ketika saya menulis memoir ini, saya mungkin tengah berada pada hari-hari terakhir saya. Ketika orang membaca tulisan ini, saya sangat pasti ini lah tulisan terakhir yang bisa saya buat untuk majikan saya, Pinang Sori yang saya cintai.

Mungkin ia sedih. Mungkin ia kecewa. Saya pun begitu. Seandainya diberi kesempatan, saya masih ingin mengulang masa-masa indah bersamanya. Sejujurnya saya ingin mengatakan kepadanya, saya sangat berbahagia di akhir hidup saya ini. Bahagia karena pernah mengalami masa-masa yang istimewa sebagai kerbau yang istimewa, bersama seorang majikan yang istimewa, Pinang Sori. Ia pemurah, penyayang dan begitu setianya pada saya. Ia bahkan berjanji jika kelak saya mengembuskan nafas penghabisan di desa Sipinangsori ini, ia pun tak kan pernah beranjak dari sana. Ia ingin menghabiskan sisa hidup tak jauh-jauh dari saya.

Terimakasih, Tuan Pinang Sori. Diatei tupa ma."

Pinang Sori dan kerbaunya, Sinanggalutu, dipercaya adalah tokoh historis. Tetapi dongeng-dongeng tentang pergaulan sang Tuan dan peliharaannya itu ada dalam bermacam versi. Itu tak mengherankan, karena legenda sudah menjadi bagian wajar yang melingkupi hidup raja-raja zaman dahulu –bahkan zaman sekarang. Tulisan di atas adalah salah satu versi interpretasi ulang dari salah satu dongeng tentang hubungan Pinang Sori dan Sinanggalutu.

Pinangsori dipercaya hidup pada periode tahun 1400-an. Ia dipercaya merupakan perintis Kerajaan Raya, salah satu kerajaan di wilayah Simalungun yang masih ada hingga 'revolusi sosial' melenyapkannya pada 1947.

Urutan raja-raja Raya sejak Pinang Sori adalah sebagai berikut:

Tuan Si Pinang Sori
Raja Raya, Tuan Lajang Raya
Raja Raya Simbolon (Namanya memakai nama wilayah kerajaannya, sebab tidak
diketahui lagi siapa nama aslinya)

Raja Gukguk
Raja Unduk
Raja Denggat
Raja Minggol
Raja Poso
Raja Nengel
Raja Bolon
Raja Martuah
Raja Raya Tuan Morahkalim
Raja Raya Tuan Jimmahadim, Tuan Huta Dolog
Raja Raya Tuan Rondahaim
Raja Raya Tuan Sumayan (Kapoltakan)
Raja Raya Tuan Gomok (Bajaraya)
Tuan Yan Kaduk Saragih Garingging

Perihal Pinang Sori, Berbeda dengan kisah dalam dongeng yang mengatakan ia terusir dari kerajaan Aji Nembah karena 'tidak diajak makan siang' oleh ayahnya, kepergian Pinang Sori dari tanah kelahirannya diduga karena adanya perseteruan internal diantara keluarga penguasa Aji Nembah. Perseteruan itu diperparah oleh campur tangan pihak luar Aji Nembah, membuat banyak warganya yang melarikan diri dari kerajaan tersebut. Ketika itu lah Pinang Sori yang tengah menggembalakan kerbaunya di desa Garingging, memutuskan hengkang, bersama kerbau-kerbaunya ke arah hilir desa itu. Dalam rombongannya, termasuk beberapa orang saudaranya yang sekubu dengannya, berikut sejumlah pegawai kerajaan. Ada sekitar 100 orang anggota rombongan itu.

Diperkirakan 'hijrah' Pinang Sori terjadi pada tahun 1927. Dari Garingging rombongannya pergi ke Tikkos sambil mengajak kerabat mereka yang sudi ikut. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Purba Tua, lalu ke Hinalang hingga setelah satu tahun dalam perjalanan mereka tiba di Raya Simbolon.

Tak lama setelah Pinang Sori bermukim di Raya Simbolon, utusan Raja Nagur mendatangin dan memintanya menghadap ke Rumah Bolon Nagur di Raya Usang. Di sana, Raja Nagur mengajak Pinang Sori bekerjasama untuk mengusir musuh-musuh kerajaan Nagur. Musuh-musuh itu antara lain para pendatang dari pesisir pantai selain para penghulu-penghulu dusun yang memberontak.

Pada saat itu lah Pinang Sori bersumpah membela Raja Nagur. Tak lama kemudian, ia menikah dengan putri tunggal raja itu. Sang putri memberinya seorang putra yang diberi nama Lajang Raya. Sebagai menantu, Pinang Sori membantu Raja Nagur dalam menghadapi musuh-musuh kerajaan. Bersama dengan dia, tidak pernah absen peranan Sinanggalutu sebagai kerbau tunggangannya.

Tentang akhir hidup Sinanggalutu ada berbagai versi. Selain versi di atas, ada yang mengatakan Sinanggalutu menghabiskan hidupnya di daerah Padang Lawas. Itu terjadi setelah ia membawa tuannya, Pinang Sori ke kampung pamannya di Bondailing. Pinang Sori berpulang di di sana sementara Sinanggalutu dikisahkan pergi ke Padang Lawas.

Versi lain mengatakan Sinanggalutu terluka bukan dalam perang melainkan karena kalah dalam adu kerbau. Kerbau yang mengalahkannya konon hanya kerbau 'junior,' alias kerbau anak-anak.
 
 
sumber : Parmasi Bogor

Buku Silsilah Saragih Garingging

Buku ini memang adalah buku langka,di mana setidaknya silsilah salah satu marga Simalungun asli yaitu Saragih Garingging diulas secara rinci oleh Taralamsyah Garingging…
Buku Tua yang kemungkinan dicetak pada tahun 1980an ini secara “hampir” rinci menuliskan para leluhur semua keturunan marga Saragih Garingging yang dimulai dengan kembalinya Si Pinang Sori dari Garingging di Karo menuju Raya.
Data dan nama yang tertera kebanyakkan keturunan Garingging yang minimal lahir pada tahun 1970an karena berhubung sang penulis wafat pada pada tahun 1970an juga..
Ini terbukti dari tidak terteranya nama atturang saya,namun untunglah nama bapa dari Atturang saya tercatat dalam buku ini yaitu Marialam Saragih Garingging namun pada buku tertulis tidak tercantum lagi keturunan selanjutnya karena Oppung ini hanya mempunyai 3 anak boru sebelum ia wafat ditembak oleh Belanda.
Buku yang diketik oleh mesin ketik ini menggunakan bahasa Simalungun dialek Raya,saya dapatkan buku tua ini dikirimkan oleh bang Marim Purba yang juga kebetulan oppungnya adalah boru Saragih Garingging sehingga ia mempunyai koleksi buku ini…
Tanpa mengurangi hormat saya pada Oppung Alm.Taralamsyah Garingging mungkin ada baiknya buku tua silsilah Keluarga Besar Saragih Garingging ini perlu diperbanyak kembali agar generasi Saragih Garingging abad Milenium ini bisa mengetahui silsilahnya agar tidak terpengaruh dengan pengaruh dari pihak Toba yang selalu mengait-ngaitkan Saragih dengan Parna (Keturunan Raja Nai Ambaton) terutama marga Saragih Garingging yang memang asli Raya,Simalungun.


sumbrt : sevilla99